Friday, May 17, 2019

Sejarah Pergerakan Partai Masyumi


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Partai politik (Parpol) adalah sebuah organisasi yang memperjuangkan nilai atau ideologi tertentu melalui struktur kekuasaan dan kekuasaan itu diperoleh melalui keikutsertaan di dalam pemilihan umum. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, partai politik adalah instrumen penting dalam kehidupan politik. Aksioma yang berlaku, tak ada sistem politik yang berjalan tanpa partai politik kecuali sistem politik otoriter dimana raja atau penguasa dalam menjalankan kekuasaannya sangat bergantung kepada tentara dan polisi. Di parlemen misalnya para anggota parlemen dipilih rakyat melalui mekanisme pemilu yang dijalankan partai politik. Kekuatan partai politik juga yang menentukan hampir sebagian besar proses kepemimpinan di Indonesia termasuk pemilihan presiden Indonesia dan pemimpin lembaga negara lainnya.
Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusionil – untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka (Miriam Budiarjo, 2009: 404). Dalam perspektif lain, partai politik dianggap sebagai keharusan dalam kehidupan politik modern yang demokratis, pengecualiannya hanya pada masyarakat tradisional yang sistem politiknya otoritarian yang pemerintahannya bertumpu pada tentara atau polisi. Sebagai organisasi, parpol bertujuan mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing, serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik secara absah (legitimate) dan damai (Roy C. Macridis dalam Amal Achlasul: 1996). Sementara, dalam Islam istilah partai politik baru dikenal pada masa modern ini, yakni ketika Muslim bersentuhan dengan sistem demokrasi. Sebelum ada partai politik, di dunia Islam sudah ada terlebih dahulu lembaga politik bernama Ahl Al-Hall Wa Al ‘Aqd. Lembaga ini berisi orang-orang berilmu, berintegritas dan punya otoritas untuk mengambil keputusan politik di lingkungan pemerintahan.


1.2  Rumusan Masalah
1.     Bagaimana berdirinya partai islam di indonesia?
2.      Bagaimana pergerakan partai Syarikat Islam?
3.      Bagimana pergerakan partai Masyumi?
1.3  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui sejarah berdirinya partai islam di indonesia.
2.      Untuk mengetahui pergerakan partai Syarikt Islam.
3.      Untuk mengetahui pergeragan partai Masyumi.
1.4  Manfaat Penulisan
1.      Pembaca dapat mengetahui mengetahui sejarah berdirinya partai islam di indonesia.
2.      Pembaca dapat mengetahui pergerakan partai Syarikt Islam.
3.      Pembaca dapat mengetahui  pergeragan partai Masyumi.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Berdirinya Partai Islam Di Indonesia
Partai Islam yang dimaksudkandalam tulisan ini adalah, suatu perkumpulan yang seasas, sehaluan dan setujuan.[1] Dengan demikian, Partai Islam merupakan perkumpulan atau golongan yang menjadikan agama Islam sebagai asas partai. Menjelang kemerdekaan Indonesia, para pemimpin Islam ketika itu tidaklah mementingkan berdirinya suatu negara yang berdasarkan Islam, tetapi yang terpenting adalah kemerdekaan Indonesia. Hai ini disebabkan karena pemikiran pemimpinpemimpin Islam pada saat itu didasarkan pada penduduk bangsa Indonesia yang sebagian besar beragamaIslam, yang menurutnya jumlah yang mayoritas agama Islam itu tentu akanmembentuk negara Indonesia yang berdasarkan Islam dan pemerintah yang beragama Islam. Dengan perkataan lain pemikiran pada saat itu adalah bahwa Indonesia setelah merdeka akan otomatis menjadi negara yang berdasarkan Islam.'
Hal lain yang menjadi kendala dalam pendirian negara Islam adalah dalam percaturan sejarah umat Islam, citacita untuk mendirikan negara Indonesia yang berdasarkan Islam bukan hal yang mudah untuk diwujudkan. Hal ini disebabkan, bukan saja tantangan yang berasal dari partai Islam sendiri, juga munculnya partai-partai nasional sekuler yang menjadi penghambat. Hal ini dapat dilihat pada perkembangan sejarah partai-partai Islam sebelum dan sesudah kemerdekaan. Sarekat Islam yang merupakan partai Islam yang pertama di Indonesia telah memberikan sumbangan dalam kehidupan politik indonesia pertama kali yang harus dilihat dari perjuangan organisasi Sarekat Islam (SI), sebagai partai nasional yang besar yang pertama dalam programnya tidak menyebut-nyebut negara Islam, yang dituntut adalah kemerdekaan Indonesia.'
Berdirinya parta Islam pada masa merdeka perlu dilihat dari latar belakang perkembangan politik di Indonesia pada masa itu, seperti yang telah dikemukakan pada awal pembahasan ini, bahwa SI yang telah dimasuki oleh orang-orang yang berideologi komunis, dalam tuhuh organisasi ini juga telah menjadi perpecahanyang merupakan salah satu faktor penyebab lemahnya organisasi Islam. Akibamya, sekalipun SI mampu bertahan, tetapi sejak tahun 1990-an pengaruhnya dalam perpolitikan Indonesia semakin kecil. Pada tahun 1933 Soekiman dipecat dari SI (pada saat itu sudah berubah menjadi PSII). Sehingga, mereka yang merasa kecewa kemudian mendirikanpartai barn. Pada tahun 1938 berdiri Partai Islam Indonesia (PII) yang didukung oleh Muhammadiyah, Persis, Thawalib dan bekas anggota Permi di Sumatera.[2] '
Dapat disimpulkan, bahwa sejak dekade 1930-an SI bukan lagi satu-satunya partai politik Islam. Apalagi, pada bulan April 1927 dibentuk puta di Bandung Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) di hawah pimpinan Ir. Soekarno. Partai ini bertujuan agar kemerdekaan Indonesia bersifat sekuler. Munculnya partai sekuler ini memberi kesadaran pemimpin-pemimpin Islam dan alim ulama. bahwa kemerdekaan Indonesia kelak seeara tidak otomatis akan membentuk negara yang berdasarkan Islam. Terbentuknyaa PNI tahun 1927menandai semakin dommannya peran kelompok nasional sekuler dalam perpolitikan pada saat itu. Meskipun partai ini tidakberumur panjang karena dibubarkan olehBelanda pada tahun 1931. Ideologi nasionalisme diteruskan oleh berbagai partai politik yang lahir kemudian, seperti Partindo, PNI Baru dan Parindra.
2.2 Pergerakan Partai Syarikat Islam
Asal usul petumbuhan gerakan politik di kalangan muslim di Indonesia dapat dikatakan identik dengan asal usul dan pertumbuhan Sarekat Islam. Sarekat Islam yang tumbuh dari organisasi yang mendahuluinya yang bernama Sarekat Dagang Islam merupakan organisasi yang terkenal dengan gerakan nasionalis, demokratis, religius dan ekonomis. Dalam waktu singkat perkembangan Sarekat Islam telah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.
Serikat Islam (SI) sendiri didirikan karena dua alasan :
(1). Kompetisi yang makin meningkat dalam perdagangan baik, terutama dengan golongan Cina sehubungan dengan berhasilnya revolusi Cina pada tahun 1911.
(2). Adanya tekanan dari masyarakat Indonesia, yaitu dari Bengawan Solo. Sehingga lewat pertemuan Solo pada tangal 11 November 1912. 51) diubah menjadi Serikat.[3]
Tujuan utama SI pada awal berdirinya adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang Islam Jawa. Keadaan hubungan yang tidak harmonis antara Jawa dan Cina mendorong pedagang-pedagang Jawa untuk bersatu menghadapi pedagang-pedagang Cina. Di samping itu agama Islam merupakan faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang-pedagang Islam.

Adapun Tujuan Serikat Islam(SI) di tinjau dari anggaran dasarnya meliputi:
1. Mengembangkan jiwa dagang,
2. Membantu para anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha,
3. Memajukan pengajaran dan semua usaha yang menaikkan derajat rakyat bumiputera
4. Menentang pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam, dan
5. Hidup menurut perintah agama.

Adapun juga faktor-faktor yang menyebabkan Serikat Islam cepat berkembang adalah:
a) Kesadaran sebagai bangsa yang mulai tumbuh,
b) Sifatnya kerakyatan,
c) Didasari agama Islam,
d) Persaingan dalam perdagangan, dan
e) Digerakkan para ulama.
Pemerintah Hindia Belanda merasa khawatir terhadap perkembangan SI yang begitu pesat karena mengandung unsur-unsur revolusioner.SI dianggap membahayakan kedudukan pemerintah Hindia Belanda, karena mampu memobilisasikan massa.Sehingga puhak Hindia Belanda mengirimkan salah seorang penasihatnya kepada organisasi tersebut.Gubernur Jenderal Idenburg meminta nasihat dari para residen untuk menetapkan kebijakan politiknya.Hasil sementaranya SI tidak boleh berupa organisasi besar dan hanya diperbolehkan berdiri secara lokal. Pada kongres Sarekat Islam di Yogayakarta pada tahun 1914, HOS Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Sarekat Islam. Ia berusaha tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari Central Sarekat Islam harus dikutuk dan persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu.
Awal Perpecahan Dalam SI di awali dengan hadirnya dua orang belanda yang bernama Henricus Yosephus Fransiciscus Marie Sneevliet dan Adolf Baars yang datang ke indonesia pada tahun 1913. Pada mulanya ia bekerja sebagai pimpinan redaksi “Hardels Blad” Surabaya selama dua bulan. Kemudian menjadi sekretaris K.D.S. (Kamar Dagang Semarang) pada tahun yang sama. Keduanya kader-kader komunis yang telah dididik di negri Rusia. Kemudian mereka mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democraticehc Vereneging) pada tahun 1914 di semarang, yang merupakan partai sosialis kemudian berkembang menjadi partai komunis terutama setelah berhasilnya revolusi Rusia pada tahun 1917.
Menurut analisis tokoh tokoh SI, munculnya ISDV yang di kembangkan oleh dua orang Belanda tersebut adalah meruoakan usaha pemerintah Belanda untuk mengoncangkan kesetabilan SI, sekaligus pemecah belah dari akar tubuh SI karena pemerintah memang khawatir dengan semakin kuatnya posisi SI ini. Usaha Sneevliet berhasil setelah mampu mempengaruhi pimpinan SI di Semarang yang waktu itu di pegang oleh Smaun Himidan Darsono dengan masuknya ke tubuh ISDV. Kegiatan mereka senantiasa menciptakan kerusuhan dan pergolongaqn dalam tubuh SI, terutama menyesatkan fitnah fitnah keji terhadap pimpinan SI, kemudian setelah merasa posisi mereka kuat, mereka mendirikan Partai Komunis India ( Hindia ) pada tanggal 23 Mei 1920 yang merupakan transformasi dari ISDV, tindakan mereka seperti itu tercium oleh pimpinan SI dalam suatu kongres partai pada tahun 1921, mereka di keluarkan dari keanggotaan SI, ini akibat di canangkannya “disiplin partai” dimana dinyatakan bahwa anggota SI tidak di perkenankan menjadi anggota kelompok/partai lain.
Sekeluarnya mereka dari SI, mereka semakin giat melakukan propaganda dalam usaha memasyarakatkan fahamnya, bahkan tidak sekedar propaganda, mereka juga memfokuskan Move move yang bersifat “ Phsyie” (kejiwaan). Puncak peris tiwa adalah ketika mereka memproklamasikan berdirinya PKI, kemudian mengadakan pemberontakandi daerah Jawa Tengah dan Sumatera Barat pad atahun 1926. Kelompok ini lebih di kenal dengan “SI” merah ( Sosialis Indonesia ). Pada tahun berikutnya tegasnya pada tahun 1927, Soekarno yang di harapkan jadi kader SI militan menyimpang atau bertentangan faham dengan HOS Cokroaminoto mengenai dasar dan tujuan perjuangan. Soekarno berpendapat hanya faham kebangsawananlah bukan Islam yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia dalam mempersatukan langkah menghadapi kolonial Belanda, kemudian ia mendirikan Partai Nasional Indonesia ( PNI ) yang berdasarkan nasional sekuler.
2.3 Pergerakan Partai Masyumi
a) Pembentukan partai masyumi
Kedudukan umat Islam secara politis tidak terlalu menggembirakan pada bulan-bulan pertama kemerdekaan Indonesia. Keadaan ini bisa dilihat dari kurang terwakilinya tokoh Islam dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Melihat kedudukan umat Islam dan aspirasi umat Islam seperti itulah yang kemudian menimbulkan kesadaran di kalangan tokoh-tokoh Islam untuk membentuk partai politik Islam. Serangkaian pembicaraan dan diskusi pun dilakukan untuk menjawab tantangan itu. Pembicaraanpembicaraan itu pada awalnya dilakukan secara informal pada bulan September 1945 di Jakarta, seperti pembicaraan antara K.H. Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir dan Moh. Roem. Pembicaraan informal seperti itu disambut para tokoh Islam lainnya, sehingga makin berkembang dan mengkristal untuk membentuk partai politik Islam. Mereka mengadakan rapat di Yogyakarta pada tanggal 11 Oktober 1945 untuk menyusun rencana aksi dalam rangka membentuk partai politik islam.
Adanya keinginan bersama di kalangan umat Islam untuk membentuk partai politik Islam mendapat legitimasi setelah keluarnya Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 yang berisi anjuran untuk mendirikan partai politik. Empat hari setelah keluarnya Maklumat tersebut, maka diadakanlah Muktamar Umat Islam pada tanggal 7 dan 8 Nopember 1945 bertempat di Gedung Muallimin Yogyakarta. Pelaksana muktamar adalah Majelis Syuro Muslimin Indonesia.2 Muktamar ini dihadiri tokoh-tokoh Islam, yakni para ulama, guru-guru agama dari pondok pesantren dan madrasah serta pemimpin-pemimpin organisasi Islam.[4]
Muktamar tersebut memutuskan beberapa hal. Pertama, Masyumi merupakan partai politik Islam. Kedua, Masyumi merupakan satu-satunya partai politik di kalangan umat Islam. Ketiga, memperkuat persiapan umat Islam untuk berjihad fi sabilillah dalam melawan segala bentuk penjajahan. Keempat, memperkuat pertahanan Negara Indonesia dengan menyusun Barisan Sabilillah di daerah-daerah. Kelima, memilih Dr. Soekiman sebagai ketua, dan wakil ketua masing masing Abikusno dan Wali al Fatah. Ketiga orang itu diberi mandat untuk menyusun kepengurusan Masyumi.
Kepengurusan Masyumi terdiri dari Pimpinan Partai dan Majelis Syuro. Pimpinan Partai merupakan lembaga eksekutif yang membuat pernyataan politik, dan memutuskan kebijakan partai. Majelis Syuro merupakan lembaga penasehat yang berfungsi untuk memberi nasehat dan fatwa kepada Pimpinan Partai dalam pekerjaan partai secara garis besar. Susunan kepengurusan pimpinan partai didominansi oleh politisi karir yang berlatar belakang pendidikan Barat. Dr. Sukiman misalnya, pernah menjadi Ketua Partai Islam Indonesia yang didirikan pada 4 Desember 1938. Sementara itu, pada level Majelis Syuro didominasi oleh para ulama, terutama para pemimpin organisasi keislaman, seperti K.H. Hasyim Asyari dan K.H. Wahid Hasyim dari NU, dan Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah. Masuknya unsur-unsur organisasi dalam Masyumi sebagai anggota istimewa memberi darah segar bagi Masyumi untuk mengembangkan sayapnya dan memperbanyak anggotanya, terutama dari kalangan umat Islam. Hal ini tentunya menambah kekuatan politik Masyumi. Bergabungnya berbagai organisasi keagamaan tersebut tidak lepas dari adanya kebersamaan dan semangat persaudaraan yang tercermin dari ideologi yang dimiliki Partai Masyumi.[5]
            b) Perkembangan Dalam Tubuh Partai Masyumi
1.      Masyumi sebagai Pemersatu Umat
Sejak diadakannya Muktamar Umat Islam di Yogyakarta pada tanggal 7 dan 8 Nopember 1945, Masyumi sudah didukung organisasi - organisasi Islam yang sudah didirikan pada masa penjajahan Belanda, seperti NU dan Muhammadiyah. Perkembangan anggota Masyumi semakin pesat setelah bergabungnya berbagai organisasi Islam yang bersifat lokal.
Pada mulanya yang bergabung adalah Persatuan Umat Islam dan Perikatan Umat Islam. Kemudian disusul Persatuan Islam (Persis) di Bandung, Jami’ah Al-Wasliyah dan Al-Ittihadiyah di Sumatera Utara pada tahun 1948, Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) di Aceh pada tahun 1949, Al-Irsyad pada tahun 1950, Mathlaul Anwar di Banten dan Nahdatul Wathan di Lombok.
Delapan organisasi-organisasi itu bergabung dengan Partai Masyumi sebagai anggota istimewa. Anggota istimewa Masyumi adalah anggota organisasi. Bergabungnya organisasi-organisasi itu memberikan andil besar dalam penambahan anggota Masyumi, dan memperluas pengaruhnya ke seluruh pelosok nusantara. Meskipun Partai Masyumi sudah didukung oleh berbagai organisasi keislaman, tetapi Masyumi tidak berhenti di situ saja.
 Artinya, Masyumi tetap melakukan usaha untuk merekrut anggota, dengan cara mendirikan berbagai bentuk organisasi yang bersifat otonom. Partai Masyumi pada masa revolusi sudah mempunyai cabang dan anak cabang hampir di seluruh Indonesia, bahkan cabang Masyumi sudah dibentuk di Kepulauan Kai (Irian), yang ketika itu masih menjadi kawasan yang dipersengketakan dengan Belanda.



1.      NU keluar dari Masyumi
Keanggotaan Masyumi mengalami pengurangan, terutama setelah NU (Nahdatul Ulama) keluar dari Masyumi pada 1952. NU keluar dari Masyumi disebabkan karena kurang terakomodasinyakeinginan dan kepentingan NU dalam Masyumi. Hal ini bisa dilihat dari dua hal :
a.       NU sudah lama merasa tidak nyaman dalam Masyumi, terutama sejak Muktamar Masyumi IV di Yogyakarta pada tanggal 15-18 Desember 1949. Ketidaknyamanan itu semakin terasa ketika muktamar memutuskan untuk merubah status Majelis Syuro menjadi badan penasehat. NU merasa kedudukannya dalam Masyumi sudah tidak begitu penting lagi dalam proses pengambilan keputusan dan kebijaksanaan partai.
b.      Tidak dipenuhinya tuntutan dari kalangan NU agar kursi menteri agama diserahkan kepada mereka. Penolakan terhadap tuntutan NU tersebut oleh Pimpinan Partai Masyumi menjadi puncak dari kekecewaan NU terhadap Masyumi. Berangkat dari serangkaian peristiwa itu, maka dikalangan tokoh NU muncul pemikiran untuk mengkaji ulang kedudukan NU dalam Masyumi. Masalah ini pun akhirnya dibawa dan dibahas di tingkat Pengurus Besar NU. Dalam rapat NU pada tanggal 5 April  1952 di Surabaya diputuskan untuk mengeluarkan NU dari Masyumi.
2.      Masyumi dan Pemilu 1955
Pemilu pertama diadakan pada tahun 1955, untuk memilih wakil rakyat di DPR dan Konstituante. Partai Masyumi sendiri memperoleh suara terbanyak, kedua setelah PNI. Bahkan Masyumi merupakan partai terbesar di antara partai Islam lainnya, dengan perolehan  suara sebanyak 7.789.619 untuk Konstituante. Perolehan suara tersebut menempatkan anggota Masyumi duduk dalam Konstituante sebanyak 112 orang dari 514 kursi yang diperebutkan. Sementara itu, dalam pemilihan anggota DPR, Masyumi memperoleh 7.903.886 suara, sehingga memperoleh 57 kursi – sama dengan PNI – dari 257 kursi yang diperebutkan.
3.      Penghapusan Anggota Istimewa Masyumi
Seiring dengan perubahan situasi dan meningkatnya suhu politik pada pra dan pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka di kalangan anggota istimewa muncul pembicaraan tentang eksistensi anggota istimewa. Munculnya kesadaran di kalangan anggota istimewa Masyumi tentang situasi politik berkembang begitu cepat, terutama adanya peningkatan konflik antara Presiden Sukarno dengan Pimpinan Masyumi.
Anggota istimewa yang paling cemas akibat dari konflik itu adalah Muhammadiyah. Hal ini bisa dipahami karena Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang terbesar dan memiliki anggota yang terbanyak di antara organisasi lain. Pengumuman penghapusan anggota istimewa Masyumi dilakukan pada 8 September 1959. Penghapusan anggota istimewa didasarkan atas pertimbangan meningkatnya konflik antara Pimpinan Partai Masyumi dengan Presiden Sukarno. Penghapusan anggota istimewa berdampak langsung tehadap keanggotaan Masyumi, sehingga anggotanya berkurang secara drastic.[6]



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Partai Islam merupakan perkumpulan atau golongan yang menjadikan agama Islam sebagai asas partai. Asal usul petumbuhan gerakan politik di kalangan muslim di Indonesia dapat dikatakan identik dengan asal usul dan pertumbuhan Sarekat Islam. Sarekat Islam yang tumbuh dari organisasi yang mendahuluinya yang bernama Sarekat Dagang Islam merupakan organisasi yang terkenal dengan gerakan nasionalis, demokratis, religius dan ekonomis. Dalam waktu singkat perkembangan Sarekat Islam telah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Melihat kedudukan umat Islam dan aspirasi umat Islam seperti itulah yang kemudian menimbulkan kesadaran di kalangan tokoh-tokoh Islam untuk membentuk partai politik Islam. Serangkaian pembicaraan dan diskusi pun dilakukan untuk menjawab tantangan itu dan terbentuklah masyumi.

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini, semoga dapat membuka wawasan pembaca tentang partai Syarikat Islam dan Masyumi. Dan kita dapat membedakan berbagai kedua partai tersebut. Namun, makalah ini masih jauh dari kata sempurna banyak kekurangan yang mendasar dari materi ini. Oleh karena itu saran dan kritik dari pembaca sangat membantu agar makalah ini menjadi lebih baik kedepannya.
.










DAFTAR PUSTAKA
Insan Fahmi Siregar, “Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Partai Masyumi (1945-1960)”, Thaqafiyyat, Vol. 14, No. 01, 2013.
Insan Fahmi Siregar. 2013. Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Partai Masyumi (1945-1960).
Jurnal Al-Syir’ah Vol. 1 No. 2 Juli-Desember 2003
Jurnal pendidikan. Vol 14 No. 1 Hal. 90-91.
Thobroni, et.al. Islam Pluralisme Budaya dan Politik, Cet. I. Jogyakarta: SINUS, 1994.
WJS. Poerwadarrninta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1982.



[1] WJS. Poerwadarrninta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1982, Hal. 712.
[2]Thobroni, et.al., Islam Pluralisme Budaya dan Politik, Cet. I: Jogyakarta: SINUS, 1994, Hal.  37.
[3] Jurnal Al-Syir’ah Vol. 1 No. 2 Juli-Desember 2003
[4] Jurnal pendidikan. Vol 14 (no 1) Hal. 90-91.
[5] Insan Fahmi Siregar. 2013. Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Partai Masyumi (1945-1960).
[6] Insan Fahmi Siregar, “Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Partai Masyumi (1945-1960)”, Thaqafiyyat, Vol. 14, No. 01, 2013, hlm 93-100

No comments:

Post a Comment