Friday, May 17, 2019

PRKEMBANGAN ISLAM JAWA


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Proses Islamisasi Di Jawa[1]
Teori-teori itu berkisar pada dua persoalan yaitu kapan masuknya Islam dan dari mana datangnya: Pertama, Islam masuk ke wilayah Jawa sejak abad ke-XI atas dasar inskripsi di leran, gresik yang menjelaskan adanya seorang yang bernama Fatimah binti Maimun, yang wafat pada tahun 1082. Pandangan ini mengundang keberatan berbagai kalangan karena diduga batu nisan tersebut dibawa masuk ke Jawa sesudah tahun yang tertera di dalamnya. Ricklefs Lebih jauh menyatakan bahwa yang dikubur di situ bukanlah orang Jawa, tetapi kemungkinannya adalah orang luar yang kebetulan melancong di Jawa dan meninggal di sana. Orang Jawa yang meninggal itu menggunakan Nissan berasal dari luar Jawa mainkan Batu Nisan yang ada di leran tersebut berasal dari luar Jawa sesudah tahun yang tertera dalam batu nisan tersebut.
Kedua, islam suda berada di jawa semenjak abad XIV berdasarkan batu nisan yang terdapat  di trowulan. Batu nisan tersebut menujukkan tahun 1368 berindikasi bahwa kalangan kraton sudah memeluk agama islam.  Kenyataan ini memberipetunjuk bahwa kedatangan islam pada tahun-tahun sebelum barang tentu melalui kawasan pesisir yang kemudian wilayah perdamaian.
Ketiga, Islam sudah berada di Jawa pada abad ke-15. Berdasarkan batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim yang meninggal pada tahun 1419. Beberapa pandangan menyatakan bahwa ia adalah seorang kaya berkebangsaan Persia yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah. Pandangan lain menyatakan bahwa ia adalah seorang diantara Wali songo yang dianggap penyebar Islam di Pulau Jawa, diantara ketiga pandangan tersebut pandangan terakhir Lah yang menonjol di kalangan masyarakat luas hingga sekarang. Oleh karena itu makam Maulana Malik Ibrahim selalu dikunjungi oleh masyarakat luas sebagai apresiasi mereka terhadap pelaporannya sebagai penyebar Islam serta keberadaannya sebagai wali.
Berdasarkan rute kedatangan Islam ke Jawa terdapat juga teori yang berbeda satu sama lain yaitu: pertama, Islam masuk ke Jawa berasal dari Arab cara langsung. Hal ini dikuatkan dengan adanya anggapan bahwa pada waktu itu sudah ada rute pelayaran melalui Persia dan India ke wilayah timur, perdagangan ini dikemukakan oleh Nieman dan dikuatkan oleh Pijnaple.
Kedua, Islam masuk wilayah Jawa melalui jalur India. Pandangan ini paling tidak didukung oleh tiga hal yaitu adanya orang Islam di wilayah India Selatan adanya jalur perdagangan antara India Selatan, dengan kepulauan nusantara, dan adanya elemen Islam yang amat menonjol dalam kegiatan perdagangan. Pandangan ini didukung dengan adanya batu nisan Malik Ibrahim berasal dari Gujarat. Di mana orang Gujarat banyak mendiami kawasan kota pelabuhan di pantai utara Jawa, dari Gujarat inilah akhirnya Islam menyebarkan ke Asia Tenggara.
Ketiga, masuknya Islam ke Jawa melalui Kamboja. Pandangan ini didasarkan pada adanya hubungan antara kepulauan nusantara dengan Keraton sampah pada tahun 1471. Keraton tersebut mengalami kekalahan dari orang Vietnam Utara sehingga keluarga Keraton mengungsi ke wilayah Malaka dari sini maka mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah wilayah kota pelabuhan di pantai utara Jawa melalui jalur pantai utara. Lambat laun agama Islam berkembang ke arah selatan
Keempat, Islam masuk ke wilayah Jawa berasal dari Cina. Anggapan ini dikuatkan oleh cerita yang beredar di Jawa Barat atau sejarah Banten yang menyebutkan kerajaan Demak sebagai Patih Raja Cina dalam naskah Melayu yang diterbitkan parlindungan dan dijelaskan secara terperinci tentang elemen-elemen Cina yang agak menonjol. Seperti bangunan klenteng klenteng besar yang konon semula adalah masjid yang dibangun oleh seorang muslim Cina. Yang masuk ke wilayah Indonesia pada masa kerajaan maritim.
B.     Tokoh wali songo
1.      Syiekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di samarkand Asia Tengah pada paruh abad ke 14. Sunan Gresik bersaudara dengan Maulana Ishaq Kyai ulama terkenal di Samudera Pasai sekaligus ayah dari Sunan Giri. Sunan Gresik pernah bermukim di campa (sekarang Kamboja) selama 13 tahun sejak tahun 1379 M. Lantaran merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu maka, pada tahun 1392 M Sunan Gresik hijrah ke pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang.[2]
2.      Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah putra tertua dari Sunan Gresik. Pada masa kecilnya Sunan Ampel dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di campa pada tahun 1401 M. Nama Ampel diidentikkan dengan nama tempat bermukim pada waktu yang lama. Sunan Ampel menikah dengan Putri seorang Adipati di Tuban. Dari pernikahannya itu ia dikaruniai beberapa putra dan putri. Diantaranya ada yang menjadi penerus nya yakni Sunan Bonang dan Sunan Drajat
3.      Sunan Giri
Nama aslinya adalah Raden Paku. Ia merupakan putra dari Maulan Ishak. Ia sempat diadopsi oleh Nyai Ageng Pinatih ketika masih bayi dan sempat diberi nama joko Samudro; karena Raden Paku ditemukan di tengah Selat Bali. Sunan Giri sempat mondok di Pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel sebelum memperdalam ilmu di Pasai, tempat Maulana Ishak menyiarkan Islam.
Menurut sumber lokal lembaga pendidikan Islam pertama di Jawa adalah Pesantren Giri dan Pesantren Gresik di Jawa Timur Pesantren Gresik didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim yang mendidik Mubalik Mubalik yang nantinya menyiarkan agama Islam ke seluruh Jawa sedangkan Pesantren Giri didirikan oleh Sunan Giri sekembalinya ia menuntut ilmu keislaman di Malaka Sunan Giri 1 atau Raden paku pada tahun 1485 menetap di diri sebagai kyai besar dengan gelar Prabu atau Raja satmata.[3]
4.      Sunan Bonang
Sunan Bonang yang bernama asli Syiekh Maulana Makdum Ibrahim ini pernah belajar agama di Pesantren Ampel Denta dan di Pasai bersam Sunan Giri. Sekembalinya dari Pasai, ia memutuskan untuk memusatkan kegiatan dakwahnya di Tuban dengan mendirikan Pesantren. Ia wafat di Tuban pada tahun 1525.
5.      Sunan Kalijaga
Ia dikenal sebagai budayawan dan seniman. Nama aslinya adalah Raden Said putra Adipati Tuban yaitu Temenggung Wilatikto. Ia menciptakan anaka cerita wayang yang bernafaskan islami. Ia juga menciptakan wayang kulit dan wayang beber. Dan ia juga pencipta dari lagu daerah Jawa yang berjudul Lir-Ilir.
6.      Sunan Kudus
Ia adalah putra dari Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung dari Jipang Panolan. Untuk melancarkan penyebaran islam, Sunan Kudus membangun sebuah masjid di daerah Loran pada tahun 1549 M. Masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar. Wilayah di sekitarnya disebut Kudus, merupakan nama yang diambil dari dari nama Kota al-Quds (Yarusalem) di Palestina, yang pernah ia kunjungi. Masjid itu kemudian dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus karena di sampingnya terdapat menara tempat duduk masjid..
7.      Sunan Drajad
Nama aslinya adalah Raden Qosim. Ia merupakan putra dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati. Dalam catatan sejarah Wali Songo, Raden Qosim disebut dengan seorang wali yang hidupnya paling bersahaja, walaupun dalam urusan dunia ia juga sangat rajin mencari rezki. Ia berdakwah di daerah Drajad dan meninggal di daerah itu juga. Makamnya berada di desa Drajad, kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
8.      Sunan Muria
Nama aslinya adalah Raden Umar Syaid. Ia adalah putera sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Ia dikenal sebagai seorang anggota Wali Songo yang mempertahankan kesenian Gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk merangkul masyarakat Jawa. Selain dengan kesenian, ia juga berdakwah dengan cara memadukan adat setempat dengan warna islami.

9.      Sunan Gunung Jati
Nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah. Pada usia 20 tahun dia berguru pada Syiekh di daratan Timur Tengah. Setelah selesai menuntut ilmu, pada tahun 1470 dia berangkat ke tanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya.
C.     Metode metode yang di gunakan oleh wali songo dalam menyebarkan agama islam[4]
1.      Metode al hikmah (kebijaksanaan)
Al hikmah merupakan kemampuan dan ketepatan dai dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u (objek dakwah), sebagaimana yang dilakukan oleh sunan kudus.
2.      Metode al-mau’izha al-hasanah (nasihat yang baik)
Al-mau’izha al-hasanah bermakna memberi nasihat dengan kata kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang, dan yang masuk ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan. Tidak membongkar ataupun membeberkan kesalahan orang lain. Sebab, kelemah lembutan dalam menasihati sering kali mampu meluluhkan hati yang keras. Metode ini lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman. Inilah yang dilakukan oleh wali sanga
3.      Metode al-mujadalah billati hiya ahsan (berbantah-bantahan dengan cara sebaik-baiknya)
Maksud metode ini adalah tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan, dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Antara satu pihak dengan pihak lainnya saling menghargai dan menghormati pendapat,berpegang pada kebenaran itu. Ini seperti metode dakwah sunan ampel kepada adipati aria damar dan sunan kalijaga kepada adipati pandanarang.
Itulah ketiga metode yang di gumnakan oleh wali songo dalam menyebarkan agama islam di indonesia. Dengan ketiga metode tersebut, wali songo berhasil melakukan islamisasi secara besar-besaran di indonesia. Dengan ungkapan lain, melalui ketiga metode itulah, islami dapat menyebar dengan cepat di indonesia.


[1] Purwadi, dakwah sunan kalijaga (yogyakarta: pustaka pelajar, 2007) hlm. 5-9
[2] Rizem aizid, sejarah peradaban islam terlengkap (yogyakarta: diva press, 2015) hlm. 525
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 110

[4] Rizem aizid, sejarah peradaban islam terlengkap (yogyakarta: diva press, 2015) hlm. 534

No comments:

Post a Comment