BAB II
PEMBAHASAN
A.
Proses Islamisasi Di Jawa[1]
Teori-teori
itu berkisar pada dua persoalan yaitu kapan masuknya Islam dan dari mana
datangnya: Pertama, Islam masuk ke wilayah Jawa sejak abad ke-XI atas dasar inskripsi di
leran, gresik yang menjelaskan adanya seorang yang bernama Fatimah binti
Maimun, yang wafat pada tahun 1082. Pandangan ini mengundang keberatan berbagai
kalangan karena diduga batu nisan tersebut dibawa masuk ke Jawa sesudah tahun
yang tertera di dalamnya. Ricklefs Lebih jauh menyatakan bahwa yang dikubur di
situ bukanlah orang Jawa, tetapi kemungkinannya adalah orang luar yang
kebetulan melancong di Jawa dan meninggal di sana. Orang Jawa yang meninggal
itu menggunakan Nissan berasal dari luar Jawa mainkan Batu Nisan yang ada di
leran tersebut berasal dari luar Jawa sesudah tahun yang tertera dalam batu
nisan tersebut.
Kedua, islam suda berada di jawa semenjak abad XIV berdasarkan batu nisan
yang terdapat di trowulan. Batu nisan
tersebut menujukkan tahun 1368 berindikasi bahwa kalangan kraton sudah memeluk
agama islam. Kenyataan ini memberipetunjuk bahwa kedatangan islam pada
tahun-tahun sebelum barang tentu melalui kawasan pesisir yang kemudian wilayah
perdamaian.
Ketiga, Islam sudah berada di Jawa pada abad ke-15.
Berdasarkan batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim yang meninggal pada
tahun 1419. Beberapa pandangan menyatakan bahwa ia adalah seorang kaya
berkebangsaan Persia yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah.
Pandangan lain menyatakan bahwa ia adalah seorang diantara Wali songo yang
dianggap penyebar Islam di Pulau Jawa, diantara ketiga pandangan tersebut
pandangan terakhir Lah yang menonjol di kalangan masyarakat luas hingga
sekarang. Oleh karena itu makam Maulana Malik Ibrahim selalu dikunjungi oleh
masyarakat luas sebagai apresiasi mereka terhadap pelaporannya sebagai penyebar
Islam serta keberadaannya sebagai wali.
Berdasarkan rute kedatangan Islam ke Jawa
terdapat juga teori yang berbeda satu sama lain yaitu: pertama, Islam
masuk ke Jawa berasal dari Arab cara langsung. Hal ini dikuatkan dengan adanya
anggapan bahwa pada waktu itu sudah ada rute pelayaran melalui Persia dan India
ke wilayah timur, perdagangan ini dikemukakan oleh Nieman dan dikuatkan oleh Pijnaple.
Kedua,
Islam masuk wilayah Jawa melalui jalur India. Pandangan ini paling tidak didukung oleh tiga hal yaitu adanya
orang Islam di wilayah India Selatan adanya jalur perdagangan antara India
Selatan, dengan kepulauan nusantara, dan adanya
elemen Islam yang amat menonjol dalam kegiatan perdagangan. Pandangan ini didukung dengan adanya batu
nisan Malik Ibrahim berasal dari Gujarat. Di mana orang Gujarat banyak mendiami kawasan kota
pelabuhan di pantai utara Jawa, dari Gujarat inilah akhirnya Islam menyebarkan
ke Asia Tenggara.
Ketiga, masuknya Islam ke Jawa melalui Kamboja. Pandangan
ini didasarkan pada adanya hubungan antara kepulauan nusantara dengan Keraton
sampah pada tahun 1471. Keraton tersebut mengalami kekalahan dari orang Vietnam
Utara sehingga keluarga Keraton mengungsi ke wilayah Malaka dari sini maka
mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah wilayah kota pelabuhan di
pantai utara Jawa melalui jalur pantai utara. Lambat laun agama Islam
berkembang ke arah selatan
Keempat, Islam masuk ke wilayah Jawa berasal dari Cina.
Anggapan ini dikuatkan oleh cerita yang beredar di Jawa Barat atau sejarah Banten
yang menyebutkan kerajaan Demak sebagai Patih Raja Cina dalam naskah Melayu
yang diterbitkan parlindungan dan dijelaskan secara terperinci tentang
elemen-elemen Cina yang agak menonjol. Seperti bangunan klenteng klenteng besar
yang konon semula adalah masjid yang dibangun oleh seorang muslim Cina. Yang
masuk ke wilayah Indonesia pada masa kerajaan maritim.
B. Tokoh wali songo
1. Syiekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di samarkand
Asia Tengah pada paruh abad ke 14. Sunan Gresik bersaudara dengan Maulana Ishaq
Kyai ulama terkenal di Samudera Pasai sekaligus ayah dari Sunan Giri. Sunan
Gresik pernah bermukim di campa (sekarang Kamboja) selama 13 tahun sejak tahun
1379 M. Lantaran merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu maka, pada
tahun 1392 M Sunan Gresik hijrah ke pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang.[2]
2. Sunan Ampel
Sunan Ampel adalah putra tertua dari Sunan Gresik. Pada masa kecilnya Sunan Ampel dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di campa pada tahun 1401 M. Nama Ampel diidentikkan dengan nama tempat bermukim pada
waktu yang lama. Sunan Ampel menikah dengan Putri seorang Adipati di Tuban. Dari pernikahannya
itu ia dikaruniai beberapa putra dan putri. Diantaranya ada yang menjadi
penerus nya yakni Sunan Bonang dan Sunan Drajat
3.
Sunan
Giri
Nama aslinya adalah Raden Paku. Ia merupakan
putra dari Maulan Ishak. Ia sempat diadopsi oleh Nyai Ageng Pinatih ketika
masih bayi dan sempat diberi nama joko Samudro; karena Raden Paku ditemukan di
tengah Selat Bali. Sunan Giri sempat mondok di Pesantren Ampel Denta milik
Sunan Ampel sebelum memperdalam ilmu di Pasai, tempat Maulana Ishak menyiarkan
Islam.
Menurut sumber lokal lembaga pendidikan Islam
pertama di Jawa adalah Pesantren Giri dan Pesantren Gresik di Jawa Timur
Pesantren Gresik didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim yang mendidik Mubalik
Mubalik yang nantinya menyiarkan agama Islam ke seluruh Jawa sedangkan Pesantren
Giri didirikan oleh Sunan Giri sekembalinya ia menuntut ilmu keislaman di
Malaka Sunan Giri 1 atau Raden paku pada tahun 1485 menetap di diri sebagai
kyai besar dengan gelar Prabu atau Raja satmata.[3]
4. Sunan Bonang
Sunan Bonang yang bernama asli Syiekh Maulana
Makdum Ibrahim ini pernah belajar agama di Pesantren Ampel Denta dan di Pasai
bersam Sunan Giri. Sekembalinya dari Pasai, ia memutuskan untuk memusatkan
kegiatan dakwahnya di Tuban dengan mendirikan Pesantren. Ia wafat di Tuban pada
tahun 1525.
5. Sunan Kalijaga
Ia dikenal sebagai budayawan dan
seniman. Nama aslinya adalah Raden Said putra Adipati Tuban yaitu Temenggung
Wilatikto. Ia menciptakan anaka cerita wayang yang bernafaskan islami. Ia juga
menciptakan wayang kulit dan wayang beber. Dan ia juga pencipta dari lagu
daerah Jawa yang berjudul Lir-Ilir.
6. Sunan Kudus
Ia adalah putra dari Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung dari
Jipang Panolan. Untuk melancarkan penyebaran islam, Sunan Kudus membangun
sebuah masjid di daerah Loran pada tahun 1549 M. Masjid itu diberi nama Masjid
Al-Aqsa atau Al-Manar. Wilayah di sekitarnya disebut Kudus, merupakan nama yang
diambil dari dari nama Kota al-Quds (Yarusalem) di Palestina, yang pernah ia
kunjungi. Masjid itu kemudian dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus karena di
sampingnya terdapat menara tempat duduk masjid..
7. Sunan Drajad
Nama aslinya adalah Raden Qosim. Ia merupakan putra dari Sunan Ampel dan
Dewi Condrowati. Dalam catatan sejarah Wali Songo, Raden Qosim disebut dengan
seorang wali yang hidupnya paling bersahaja, walaupun dalam urusan dunia ia
juga sangat rajin mencari rezki. Ia berdakwah di daerah Drajad dan meninggal di daerah itu juga. Makamnya berada di desa Drajad, kecamatan
Paciran, Kabupaten Lamongan.
8. Sunan Muria
Nama aslinya adalah Raden Umar Syaid. Ia adalah putera sunan Kalijaga dan
Dewi Saroh. Ia dikenal sebagai seorang anggota Wali Songo yang mempertahankan
kesenian Gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk merangkul masyarakat
Jawa. Selain dengan kesenian, ia juga berdakwah
dengan cara memadukan adat setempat dengan warna islami.
9. Sunan Gunung
Jati
Nama aslinya adalah Syarif
Hidayatullah. Pada usia 20 tahun dia berguru pada Syiekh di daratan Timur
Tengah. Setelah selesai menuntut ilmu, pada tahun 1470 dia berangkat ke
tanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya.
1. Metode al hikmah (kebijaksanaan)
Al hikmah merupakan kemampuan dan ketepatan dai dalam
memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u
(objek dakwah), sebagaimana yang dilakukan oleh sunan kudus.
2. Metode al-mau’izha al-hasanah (nasihat yang baik)
Al-mau’izha al-hasanah bermakna memberi nasihat dengan
kata kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang, dan yang masuk
ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan. Tidak membongkar ataupun membeberkan
kesalahan orang lain. Sebab, kelemah lembutan dalam menasihati sering kali
mampu meluluhkan hati yang keras. Metode ini lebih mudah melahirkan kebaikan
daripada larangan dan ancaman. Inilah yang dilakukan oleh wali sanga
3. Metode al-mujadalah billati hiya ahsan (berbantah-bantahan dengan cara
sebaik-baiknya)
Maksud metode ini adalah tukar pendapat yang dilakukan
oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan, dengan
memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Antara satu pihak dengan pihak
lainnya saling menghargai dan menghormati pendapat,berpegang pada kebenaran
itu. Ini seperti metode dakwah sunan ampel kepada adipati aria damar dan sunan
kalijaga kepada adipati pandanarang.
Itulah ketiga metode yang di gumnakan oleh wali songo
dalam menyebarkan agama islam di indonesia. Dengan ketiga metode tersebut, wali
songo berhasil melakukan islamisasi secara besar-besaran di indonesia. Dengan
ungkapan lain, melalui ketiga metode itulah, islami dapat menyebar dengan cepat
di indonesia.
[1]
Purwadi, dakwah sunan kalijaga (yogyakarta:
pustaka pelajar, 2007) hlm. 5-9
[2]
Rizem aizid, sejarah peradaban
islam terlengkap (yogyakarta: diva press, 2015) hlm. 525
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 110
[4]
Rizem aizid, sejarah peradaban
islam terlengkap (yogyakarta: diva press, 2015) hlm. 534
No comments:
Post a Comment