A. Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi merupakan hubungan timbal balik antara
dua krang atau lebih, dan masing-masing orang
yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Beberapa ahli juga mengungkapkan
pengertian interaksi. Berikut definisi interaksi dari para ahli :
1. Tribaut dan Kelley
Interaksi sebagai peristiwa saling memengaruhi
satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir
bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain, atau berkomunikasi satu
sama lain
2. Chaplin
Interaksi merupakan hubungan sosial antara beberapa
individu yang bersifat alami dan individu-individu tersebut saling memengaruhi secara
serempak.
3. Homans
Interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas
yang dilakukan seseorang oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran dan
hukuman dengan menggunakan suatu aktivitas atau sentimen oleh individu lain yang
menjadi pasangannya.
4. Shaw
Interaksi merupakan suatu pertukaran antarpribadi
yang masing-masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran
mereka, dan masing-masing perilaku memengaruhi satu sama lain.
B. Jenis-jenis Interaksi menurut pendapat ahli :
a. Shaw
1. Interaksi Verbal
Terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan
kontak satu sama lain menggunakan alat-alat artikulasi. Prosesnya terjadi dalam
bentuk percakapan satu sama lain.
2. Interaksi Fisik
Terjadi manakala dua orang saling tukar percakapan
menggunakan bahasa tubuh.
3. Interaksi Emosional
Terjadi ketika individu melakukan kontaj satu sama
lain dengan melakukan curahan
perasaan.
b. Nichols membedakan interaksi berdasarkan banyaknya
individu yang terlibat dalam proses tersebut serta pola interaksi yang terjadi.
Jenis interaksi yang dimaksud adalah interaksi dyadic dan interaksi tryadic. Interaksi
dyadic adalah interaksi yang terjadi antara dua orang atau lebih, tetapi arah interaksinya
hanya terjadi dua arah. Sedangkan interaksi tryadic terjadi manakala individu yang
terlibat di dalamnya lebih dari dua orang dan pola interaksi menyebar ke semua individu
yang terlibat.
C. Pola Interaksi Remaja dan Orang Tua
Jersild
dan Brook mengatakan bahwa interaksi antara remaja dan orang tua dapat digambarkan
sebagai drama tiga tindakan (three act drama). Drama tindakan pertama (the first
act drama), interaksi ini menunjukkan bahwa keduanya saling memiliki ketergantungan.
Drama tindakan kedua (the second act drama) disebut dengan istilah "perjuangan
untuk emansipasi". Pada tindakan ini remaja memiliki perjuangan yang kuat untuk
membebaskan diri dari ketergantungan dari orang tua. Dengan demikian remaja semakin
bisa bertanggung jawab dan menghilangkan sifat manjanya. Drama tindakan ketiga (the
third act drama), remaja berusaha menempatkan dirinya berteman dengan orang dewasa
dan berinteraksi secara lancar dengan mereka. Namun, usaha remaja ini seringkali
masih memperoleh hambatan yang disebabkan oleh pengaruh orang tua yang sebenarnya
masih belum bisa melepas anak remajanya
secara penuh.
Dalam konteks interaksi remaja dengan orang tua,
Fontana menambahkan adanya aspek objektif dan subjektif. Aspek Objektif adalah keadaan
nyata dari peristiwa yang terjadi pada saat interaksi remaja dengan orang tua berlangsung.
Sedangkan aspek subjektif adalah keadaan nyata yang dipersepsi oleh remaja pada
saat interaksi berlangsung. Fontana mengatakan bahwa tidak jarang terjadi remaja
cenderung menggunakan aspek subjektif ketika berinteraksi dengan orang tuanya. Misalnya,
orang tua yang bertindak keras kepada anaknya karena terlalu khawatir dan cemas.
Namun hal itu persepsi oleh remaja sebagai memarahinya. Padahal sesungguhnya orang
tua bermaksud melindunginya.
Interaksi
yang terjadi antar individu dalam lingkungan keluarga akan tampil dalam kualitas
yang berbeda-beda. Kualitas mengacu pada derajat relatif kebaikan atau keunggulan
suatu hal (Chaplin) dalam hal ini adalah interaksi antar individu. Suatu interaksi
dikatakan berkualitas jika mampu memberikan kesempatan kepada individu untuk mengembangkan
diri dengan segala kemungkinan yang dimilikinya.
No comments:
Post a Comment