BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Masuknya Islam
Disepakati bahwa
agama Islam pertama kali masuk ke Indonesia melalui Sumatera, selanjutnya
penyiaran agama Islam berkembang ke pulau-pulau lain di Nusantara. Ketika
kekuatan Islam semakin melembaga, berdirilah kerajaan-kerajaan Islam. Sementara
itu, berkat dukungan kerajaan-kerajaan serta upaya gigih dari para ulama,
akhirnya Islam sampai ke tanah Jawa.
Proses masuknya
Islam ke Indonesia sampai sekarang masih dalam perdebatan panjang. Tiga fokus
pembicaraan mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga
tema utama, yakni seputar tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu
kedatangannya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini terdapat perdebatan
panjang di antara para ahli sejarah. Berikut ini akan dijelaskan beberapa teori
yang populer tentang masuknya Islam ke Indonesia.
Teori yang
pertama dikenal dengan teori Gujarat, yang kedua dikenal dengan teori Arab, yang
ketiga dikenal dengan teori Persia dan yang keempat adalah teori China.
Masing-masing teori memberikan alasan dan argumentasi berbeda. Namun demikian,
antara satu teori dengan teori lainnya tidak menimbulkan satu pertentangan yang
berarti, akan tetapi bisa saling melengkapi dan memperkaya pengetahuan sejarah
bangsa kita.
a. Jalur
Masuknya Islam di Indonesia
1.
Teori
Gujarat
Teori ini dipopulerkan oleh seorang orientalis
Belanda yang meneliti tentang Islam di Indonesia bernama Snouck Hurgronje. Ia
menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi
yang dibawa oleh para pedagang dari Cambay, Gujarat, India. Memang sebagian
besar Sejarahwan asal Belanda, memegang teori bahwa Islam di Indonesia berasal
dari Anak Benua India.
Selain Snouck
Hurgronje, masih ada beberapa Sejarawan Belanda yang sepakat bahwa Islam di
Nusantara datang dari Gujarat, dengan alasan bahwa batu nisan makam Raja Malik
al-Saleh yang merupakan raja kerajaan Samudera Pasai, Aceh, bertuliskan angka
tahun 686H/1297 M dengan menggunakan nisan yang berasal dari Gujarat, India.
Selain itu batu nisan yang terdapat di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik,
Jawa Timur, juga menunjukkan hal yang sama. Kedua batu nisan tersebut memiliki
persamaan bentuk dengan batu nisan yang terdapat di Cambay, Gujarat, India.
Dengan beberapa alasan tersebut mereka meyimpulkan bahwa Islam di Nusantara
berasal dari India.
Salah satu
Sejarawan yang mendukung teori ini ialah Prof. Hamka. Dia menyatakan bahwa
Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriah (abad ke 7-8 M)
langsung dari Arab dengan bukti jalur perdagangan yang ramai dan bersifat
internasional sudah dimulai melalui selat Malaka yang menghubungkan Dinasti
Tang di China, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat.
Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh
nilai-nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama
Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab
telah berlangsung jauh sebelum tarikh Masehi.
Hamka
berpendapat bahwa pada tahun 625 M, berdasarkan sebuah naskah Tiongkok yang
dicatat oleh Pendeta Budha I-Tsing yang melakukan perjalanan dari Canton menuju
India. Perjalanan tersebut menggunakan kapal Posse, dan pada tahun 674M ia
singgah di Bhoga (yang sekarang dikenal dengan Palembang, Sumatera Selatan). Di
Bhoga ia menemukan sekelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat
Sumatera.
2. Teori
Persia
Pencetus teori Persia ini adalah Hoesein
Djajaningrat. Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya pada aspek
kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dianggap
mempunyai persamaan dengan Persia, di antaranya:
a.
cucu Nabi Muhammad SAW,
yang sangat dijunjung oleh kaum muslim Syiah di Iran (Persia). Di Sumatra
Barat, peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di
pulau Jawa ditandai dengan pembuatan Bubur Syuro.
b.
Adanya kesamaan konsep
ajaran sufisme yang dianut Syaikh Siti Jenar dengan Al-Hallaj, seorang sufi
besar dari Persia.
c.
Penggunaan istilah
bahasa Iran (Persia) dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi
Harakat.
d.
Ditemukannya makam
Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
e.
Adanya perkampungan
Leren/Leran di Giri, daerah Gresik. Leren adalah nama salah satu pendukung
teori ini, yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Djayadiningrat. Djajaningrat
dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang mempertahankan disertasi di
Universitas Leiden, Belanda, pada 1913. Disertasinya tersebut berjudul
Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Pandangan Kritis mengenai Sejarah
Banten).
3.
Teori
China
Menurut
teori China, proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal
dari para perantau China. Menurut teori ini, orang China telah berhubungan
dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa
Hindu-Buddha, etnis China atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia
terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di China pada
abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto al-Qurtuby dalam
bukunya Arus China-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik (sumber luar negeri)
pada masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dan
pesisir China bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam. Daerah
yang mula-mula menerima agama Islam adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari
tempat itu, Islam kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Beberapa tempat
penyebarannya adalah:
a.
Pesisir Sumatera bagian
utara di Aceh
b.
Pariaman di Sumatera
Barat
c.
Gresik dan Tuban di
Jawa Timur
d.
Demak di Jawa Tengah
e.
Banten di Jawa Barat
f.
Palembang di Sumatera
Selatan
g.
Banjar di Kalimantan Selatan
h.
Makassar di Sulawesi
Selatan
Pada dasarnya semua teori di atas
masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan
dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut. Menurut Azyumardi
Azra, sesungguhnya kedatangan Islam ke Indonesia datang dalam kompleksitas,
artinya tidak berasal dari satu tempat, peran kelompok tunggal, dan tidak dalam
waktu yang bersamaan.
B. Faktor Penyebab
Berkembangnya Islam di Indonesia
1.
Islam
merupakan agama yang tidak mengenal kasta
Islam merupakan
agama yang memandang semua makhluk itu sama yaitu sebagai ciptaan Tuhan.
Sehingga Islam tidak mengenal adanya sistem kasta. Dengan kondisi tersebut,
masyarakat Indonesia waktu itu menjadi tertarik dan membuat Islam menyebar
dengan mudah di Indonesia.
2.
Syarat
untuk masuk Islam sangat mudah
Syarat agar
dapat diterima dalam agama Islam sangatlah mudah. Karena hanya dengan
mengucapkan dua kalimat syahadat, maka seseorang tersebut telah dianggap
sebagai bagian dari penganut agama Islam sehingga wajib untuk menjalankan
perintah dan menjauhi laranganNya.
3.
Penyebaran
agama Islam dilakukan tanpa adanya paksaan
Dengan cara
perlahan dan tanpa adanya paksaan ini, maka banyak masyarakat Indonesia yang merasa damai apabila bergabung
dengan agama Islam. Penyebaran agama Islam dilakukan dengan cara seperti
kesenian, perdagangan, pernikahan, akulturasi budaya, dan pondok pesantren.
Jalur yang paling banyak diminati yaitu dengan cara perdagangan dan kesenian.
Karena pada saat itu Indonesia menjadi salah satu jalur perdagangan terbesar di
Asia sehingga dimanfaatkan untuk menyebarkan agama Islam. Sedangkan pada jalur
kesenian sangat menarik perhatian yaitu melalui syair, seni wayang, dan musik
rebana.
C. Perkembangan Studi
Islam di Indonesia
Seiring
berkembangnya agama islam di Indonesia, berkembang pula studi Islam di
Indonesia. Ada beberapa metode pengajaran dalam studi Islam, yaitu :
a.
Sebelum
Kemerdekaan
1.
Langgar
tempat yang biasa digunakan untuk belajar adalah di
langgar, masjid, surau dan dirumah guru yang mengajar. Materi yang disampaikan
adalah tentang tajwid, cara membaca alquran, menghafal doa doa, belajar sholat
dll. Cara belajarnya yaitu guru bertatap muka langsung dengan murid satu
persatu, dan guru mengajar dengan dikelilingi oleh murid-murid.
2.
Pesantren
Tempat belajar dipesantren yaitu dipondok yang
menjadi tempat tinggal santri. Yang mengajar didalam pondok tersebut adalah
ustadz dan kyai. Didalam pesantren, ada lebih banyak ilmu yang dipakai untuk
belajar, antara lain mengaji kitab, nahwu, sorof, ilmu tafsir, ilmu kalam, dsb.
Metode yang digunakan adalah belajar dengan membaca sebuah kitab arab, kemudian
diterjemahkan kedalam bahasa melayu. Setelah itu baru diterangkan maksudnya.
3.
Kerajaan
Cara mengajarnya dilakukan secara secara resmi oleh
lembaga yang ditunjuk langsung oleh kerajaan. Terdapat kekhususan dalam belajar
agama islam dikerajaan, pertama kerajaan samudra pasai di
aceh di dirikan oleh malik ibrahim bin mahdun yang berdiri pada abad 10 M.
Adapun materi yang diajarkan yaitu fiqih mazhab syafii dan sisi lembaganya
bersifat informal. Begitu juga dengan kerajaan-karajaan lain ada kalanya
sistemnya sama dan kadangkala juga berbeda.
Kemudian dalam
perkembangannya, pada dasawarsa abad ke-20 muncul madrasah dan sekolah sekolah
model belanda yang diprakarsai oleh organisasi-organisasi islam seperti NU,
Muhamadiyah dll. Pada tahun 1906 organisasi-organisasi tersebut mendirikan
beberapa tempet belajar seperti mamba'ul ulum yang didirikan pada 1906 oleh
susuhunan pakubuwono, sekolah adabiyah pada 1907 oleh Abdullah ahmad.
b.
Setelah Kemerdekaan
Setelah
Indonesia merdeka dan mempunyai departemen agama, maka secara instasional
departemen agama diserahi kewajiban dalam pembinaan agama. Lembaga Pendidikan
Agama Islam ada yang berstatus swasta dan negeri, antara lain :
1.
Madrasah
Ibtidaiyah (Tingkat Dasar)
2.
Madrasah
Tsanawiyah (Tingkat Menengah)
3.
Madrasah
Aliyah (Tingkat Atas)
4.
Perguruan
Tinggi Agama Islam Negeri
Walaupun sudah
ada lembaga formal yang menaungi studi islam, tidak menghilangkan tradisi
mengaji di masjid ataupun di pesantren. Hanya saja sekarang belajar agama islam
di masjid dan di pesantren telah mengalami banyak perkembangan dan kemajuan
seiring berjalannya waktu.