Gabriel
Marcel
Dalam filsafatnya, ia menyatakan
bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapibersama-sama dengan orang lain. Akan
tetapi manusia memiliki kebebasan yang bersifat otonom. Dalam hal itu, ia
selalu dalam jasmaninya, tetapi dari dalam, ia dikuasai oleh jasmaninya. Di
dalam pertemuannya dengan manusia lain, manusia mungkin bersikap dua macam.
Yang lain itu merupakan objek baginya, jadi sebagian dia, mungkin juga
merupakan yang ada bagi aku. Aku ini membentuk diri terutama dalam hubungan aku-engkau
ini. Dalam hubungan ini, kesetiaanlah yang menentukan segala-galanya. Jika aku
percaya kepada orang lain, setialahaku terhadap orang lain itu, dan kepercayaan
ini menciptakan diri aku itu setia itu hanya mungkin karena orang merupakan
bagian dikau yang mutlak (Tuhan) kesetiaan yang menciptakan aku ini pada
akhirnya berdasarkan atas pertisipasi manusia kepada Tuhan.
Manusia bukanlah makhluk yang
statis, sebab ia senantiasa menjadi (berproses) atau being and becoming. Ia
selalu menghadapi objek yang harus diusahakan. Seperti yang tampak pada
hubungannya dengan orang lain.
Perjalanan manusia ternyata akan
berakhir pada kematian, pada yang tidak ada. Perjuangan manusia sebenarnya
terjadi di daerah perbatasan antara tidak berada. Oleh karena itu, manusia
menjadi gelisah, menjadi putus asa dan takut kepada kematian. Namun, sebenarnya
kemenangan kematian itu hanyalah semu
saja, sebab hanya cinta kasih dan kesetiaan itulah yang member harapan untuk
mengatasi kematian. Didalam cinta kasih dan kesetiaan ada kepastian bahwa ada
Engkau yang tidak dapat mati. Harapan itulah yang menerobos kematian. Adanya
harapan menunjukkan bahwa kemenangan kematian adalah semu.
No comments:
Post a Comment