Thursday, November 8, 2018

Gabriel Marcel


Gabriel Marcel
            Dalam filsafatnya, ia menyatakan bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapibersama-sama dengan orang lain. Akan tetapi manusia memiliki kebebasan yang bersifat otonom. Dalam hal itu, ia selalu dalam jasmaninya, tetapi dari dalam, ia dikuasai oleh jasmaninya. Di dalam pertemuannya dengan manusia lain, manusia mungkin bersikap dua macam. Yang lain itu merupakan objek baginya, jadi sebagian dia, mungkin juga merupakan yang ada bagi aku. Aku ini membentuk diri terutama dalam hubungan aku-engkau ini. Dalam hubungan ini, kesetiaanlah yang menentukan segala-galanya. Jika aku percaya kepada orang lain, setialahaku terhadap orang lain itu, dan kepercayaan ini menciptakan diri aku itu setia itu hanya mungkin karena orang merupakan bagian dikau yang mutlak (Tuhan) kesetiaan yang menciptakan aku ini pada akhirnya berdasarkan atas pertisipasi manusia kepada Tuhan.
            Manusia bukanlah makhluk yang statis, sebab ia senantiasa menjadi (berproses) atau being and becoming. Ia selalu menghadapi objek yang harus diusahakan. Seperti yang tampak pada hubungannya dengan orang lain.
            Perjalanan manusia ternyata akan berakhir pada kematian, pada yang tidak ada. Perjuangan manusia sebenarnya terjadi di daerah perbatasan antara tidak berada. Oleh karena itu, manusia menjadi gelisah, menjadi putus asa dan takut kepada kematian. Namun, sebenarnya kemenangan kematian itu hanyalah  semu saja, sebab hanya cinta kasih dan kesetiaan itulah yang member harapan untuk mengatasi kematian. Didalam cinta kasih dan kesetiaan ada kepastian bahwa ada Engkau yang tidak dapat mati. Harapan itulah yang menerobos kematian. Adanya harapan menunjukkan bahwa kemenangan kematian adalah semu.

No comments:

Post a Comment