Thursday, September 27, 2018

Desain tata ruang perpustakaan I Part 5


Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Hallo kawan....

Berjumpa lagi di blognya ahfila

Seperti biasa disini saya ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan ilmu perpustakaan.

catatan kecil: sebelum penjelasan lebih lanjut tentang ilmu ini diberitahukan bahwa bahasa yang digunakan dalam artikel ini bukan bahasa yang baku dan mungkin akan sedikit keluar dari ekspektasi.

Di materi desainn tata ruang perpustakaan ini akan mem bahas beberapa hal. Seperti perlengkapan atau hal yang harus ada di perpustakaan Menurut Darmono (2001) terdapat:

1. Rak atau lemari buku. Lemari dan rak ini berfungsi untuk penempatan koleksi buku. Ada berbagai macam dari rak buku itu sendiri dari yang terdiri atas satu sisi dan ada pula yang dua sisi. Dan biasanya Untuk rak satu sisi ditempatkan pada dinding ruang perpustakaan,dan rak dua sisi dapat diletakkan ditengah ruangan, agar pada masing-masing sisinya dapat diisi dengan koleksi yang ada. Biasanya rak buku memiliki ketinggian 190 cm dan terdiri atas 4-5 sap untuk menempatkan koleksi buku.


2. Rak surat kabar. Rak surat kabar ini berfungsi untuk meletakkan surat kabar agar tidak mudah rusak atau sobek. Biasanya rak surat kabar terbuat dari kayu dan lebarnya disesuaikan dengan ukuran surat kabar yang ada di perpustakaan. Rak ini dilengkapi alat penjepit yang panjangnya 36 inci, yang memudahkan surat kabar untuk dipasang atau dilepas kembali.


 3. Rak majalah. Rak ini berfungsi untuk meletakkan majalah dan biasanya hanya terdiri atas  2 sap. Konstruksi rak yang rendah ini dapat memudahkan pengguna perpustakaan mengambil koleksi majalah yang ada di perpustakaan.

4. Meja dan kursi baca. Dua benda ini merupakan perlengkapan yang sangat dibutuhkan oleh perpustakaan untuk melayani pemustaka yang ingin membaca koleksi buku di ruangan perpustakaan. Pemilihan jenis meja dan kursi baca selain harus disesuaikan dengan kondisi luas ruangan juga disesuaikan dengan dana yang dialokasikan untuk membeli perlengkapan tersebut.




 5. Meja dan kursi kerja. Meja dan kursi ini berguna bagi staf perpustakaan untuk melaksanakan aktivitas dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Umumnya meja dan kursi kerja disediakan dalam bentuk tunggal tidak digabung antara staf yang satu dengan lainnya, artinya untuk satu orang staf akan mendapatkan satu buah meja dan kursi.

6. Meja sirkulasi. Meja ini pada dasarnya berfungsi untuk melayani pengguna yang akan meminjam atau mengembalikan koleksi buku di perpustakaan. Meja sirkulasi biasanya didesain khusus agar dapat menampung buku dan berkas lainnya dalam jumlah yang banyak.

7. Lemari catalog berfungsi untuk menyimpan kartu catalog. Besarnya lemari catalog disesuaikan dengan jumlah laci yang diinginkan sedangkan tingginya disesuaikan dengan tinggi badan pengguna perpustakaan pada umumnya.



8. Kereta buku. Kereta ini berfungsi untuk mengangkut buku yang dikembalikan oleh pemustaka (dari sirkulasi ke rak buku) atau mengangkut buku yang telah diproses dibagian pembinaan koleksi ke rak buku. Biasanya kereta buku terbuat dari bahan yang kuat dan beroda.
 9. Papan display ini berfungsi untuk memamerkan koleksi buku baru yang akan dilayankan oleh perpustakaan. 

Bersambung.....😁😁😅😉



maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan saya🙇😴😴   



Thursday, September 20, 2018

Desain tata ruang perpustakaan I Part 4


Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hallo kawan....

Berjumpa lagi di blognya ahfila

Seperti biasa disini saya ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan ilmu perpustakaan. Di bahasan kali ini mengenai desain perpustakaan

Okee...

catatan kecil: sebelum penjelasan lebih lanjut tentang ilmu ini diberitahukan bahwa bahasa yang digunakan dalam artikel ini bukan bahasa yang baku dan mungkin akan sedikit keluar dari ekspektasi.

Kosasih (2009:6) mengemukakan bahwa perpustakaan pada umumnya memiliki empat macam ruangan diantaranya
1. Ruang koleksi buku (rak-rak buku)
2. Ruang baca
3. Ruang pengolahan bahan pustaka dan ruang staf
4. Ruang sirkulasi
Merencanakan tata ruang harus didasari dengan hubungan antar ruang yang dipandang dari segi efisiensi, alur kerja, mutu layanan, keamanan dan pengawasan. Macam-macam sistem tata ruang perpustakaan yaitu
1.Tata sekat
Tata sekat merupakan cara pengaturan ruangan yang menempatkan koleksi terpisah dari meja pengunjung dengan cara penempatan koleksi yang terpisah oleh sekat antara meja baca dan pengunjung.
2.Tata parak
Dalam sistem ini pembaca dimungkinkan mengambil sendiri koleksi yang terletak di ruangan lain kemusian dibonkan pinjam untuk dibaca di ruangan yang disediakan. Sistem ini hampir sama dengan sistem tata sekat. Perbedaanya hanya terletak pada pemakai yang dapat mengakses dan mengambil koleksi ke rak koleksi
3.Tata baur
Penempatan koleksi dicampur dengan meja bacaan agar pembaca lebih mudah mengambil dan mengembalikkan koleksi sendiri.

Untuk memperlancar kegiatan pelayanan dan penyelesaian pekerjaan, dalam penataan ruangan perlu diperhatikan prinsip-prinsip tata ruang sebagai berikut:
1. Pelaksanaan tugas yang memerlukan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.
2. Bagian yang bersifat pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis agar mudah dicapai.
3. Jarak satu meubelair dengan lainnya dibuat agak lebar agar orang yang lewat lebih leluasa.
4. Bagian-bagian yang mempunyai tugas sama, hampir sama, atau merupakan kelanjutan, hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan.
5. Bagian yang menangani pekerjaan yang bersifat berantakan seperti pengolahan, penjilidan dan pengetikan, hendaknya ditempatkan yang tidak tampak oleh khalayak umum (pengguna perpustakaan).
6. Apabila memungkinkan, semua petugas dalam satu unit/ ruangan duduk menghadap ke arah yang sama dan pimpinan duduk di belakang.
7. Alur pekerjaan hendaknya bergerak maju dari satu meja ke meja lain dalam satu garis lurus.
8. Ukuran tinggi, rendah, panjang, lebar, luas, dan bentuk perabot hendaknya dapat diatur lebih leluasa.
9. Perlu ada lorong yang cukup lebar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi musibah/ kebakaran.

refrensi:
(http://citraindonesiaku.blogspot.com/2012/03/modul-kuliah-perpustakaan-sekolah-bab-3.html )
( http://dinnikirana.blogspot.com/2012/02/sistem-tata-ruang-perpustakaan.html )

Bersambung.....😁😁😅😉

maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan saya🙇😴😴   

Tuesday, September 18, 2018

Kearsipan dan Dokumentasi - Ilmu Perpustakaan dan Informasi part 3


Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Hallo kawan....

Berjumpa lagi di blognya ahfila

Seperti biasa disini saya ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan ilmu perpustakaan. Di bahasan kali ini mengenai jenis-jenis dokumen

Okee...


catatan kecil: sebelum penjelasan lebih lanjut tentang ilmu ini diberitahukan bahwa bahasa yang digunakan dalam artikel ini bukan bahasa yang baku dan mungkin akan sedikit keluar dari ekspektasi.

Di  postingan kali ini ahfila akan membahas tentang IR yaaa…..
IR bisa  di sebut juga INSTITUTIONAL REPOSITORY  bila ingan tau lebih lanjut monggo di simak.
IR menurut para ahli.
The College of New Jersey (2013) mendefinisikan Institutional Repository (IR) sebagai layanan repositori digital yang ditawarkan oleh institusi akademik dengan menyediakan pangkalan data online yang didesain untuk mengumpulkan, mengatur, mengorganisir, memelihara, dan menyajikan karya intelektual dari mahasiswa, fakultas dan staf pada audience secara luas. IR menunjang diseminasi pengetahuan yang dihasilkan dari cendekiawan, pembelajaran dan pengajaran, sekaligus mempromosikannya pada khalayak luas melalui satu portal digital.
Lynch (2003) dan Becan (2007) dalam Pfister dan Zimmermann (2008:286) menjelaskan IR merupakan penentuan mengenai artefak atau material yang akan disimpan, dari setiap bahan digital yang dihasilkan organisasi hingga tersaji dengan baik sebagai suatu kumpulan. IR di perpustakaan merupakan alat bantu pengarsipan karya intelektual versi digital dan bentuk peningkatan akses terhadap informasi.
Adapun katalisator perkembangan IR di perpustakaan menurut Pfister dan Zimmermann (2008:286):
A.      untuk meningkatkan visibilitas dan dampak dari hasil riset. (Crow dalam Pfister dan Zimmermann, 2008:286). Membangun dan mempertahankan reputasi komunitas keilmuan adalah hal penting bagi institusi dan akademik. Dampak dari hasil riset dapat diketahui dari metode bibliometrik seperti analisis sitasi. Studi Lawrence (2001), Harnad and Brody (2004), Antelman (2004) mendapati perlunya akses publikasi online gratis karena terbukti lebih sering dikutip dibanding literatur yang dibatasi restriksi.
B.       adanya perubahan paradigma publikasi cendekia. Seperti gerakan open access yang aktivitas utamanya berupa self -publishing konten ilmiah yang dapat diakses gratis. Gerakan open akses merupakan respon terhadap dominasi penerbit jurnal ilmiah komersial. Iniasiasi diawali Budapest Open Access Initiative (BOAI) di tahun 2002 yang gencar dengan self-archiving dan open access journal; selanjutnya Berlin Declaration on Open Accessto Knowledge in the Sciences and Humanities. Deklarasi berlin mencakup humaniora dan pusaka budaya; kontribusi open access tidak terbatas pada karya publikasi tapi juga sumber daya informasi; berfokus pada perguruan tinggi dan lembaga penelitian; memberikan peran strategis bagi pustakawan.
C.      penerapan IR didasarkan pada pengembangan komunikasi internal yang memungkinkan. Dengan adanya sentralisasi penyimpanan asset digital dari berbagai unit pada organisasi, terdapat keuntungan publikasi materi di satu tangan. Namun di sisi lain, materi yang tidak dipublikasikan seperti laporan teknis internal juga merupakan bagian dari pengetahuan organisasi sehingga harus dapat diakses tiap orang dalam organisasi melalui penyimpanan local seperti single working group.

Adapun katalisator perkembangan IR di Indonesia menurut analisa Nugraha (2014) adalah:
 (1) isu local content yang diangkat di berbagai pelatihan DIKTI;
(2) webometric sebagai indikator (tidak resmi) yang digunakan DIKTI;
(3) 4ICU (4 international colleges & universities);
(4) Program dan kebijakan DIKTI.
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat DITJEN DIKTI juga telah memiliki kebijakan terkait Open Access dan e-journal sebagai strategi peningkatan kualitas publikasi ilmiah.
Nugraha (2014) memberikan batasan terhadap diseminasi untuk mengantisipasi bentuk pengecualian tersebut :
1.      How → prinsip keterbukaan maksimal dengan pengecualian minimal
2.      What → konten : bagian tertentu yang dibatasi aksesnya
3.       When → waktu : embargo dengan time frame yang jelas
4.      Where → lokasi : akses dari internal vs eksternal kampus
5.      Who → restriksi akses : Password.
Pengembangan koleksi digital local content, institusi dapat melakukan kontrol berlandaskan pada etika umum :
a.      produksi sendiri (pribadi atau institusi)
b.      produksi orang lain atau institusi lain ada izin tertulis (surat, fax, email,dll)
c.       good faith, reasonable effort (GFRE): ada upaya yang cukup untuk memastikan atau mencari informasi terkait hak cipta. (www.library.ucla.edu/copyright/2143.cfm)
d.      notice and take down: berdasarkan prinsip GFRE maka bila terjadi pelanggaran yang tidak disengaja maka kita masih ada kesempatan untuk menutup akses ke karya tersebut tanpa ada tuntutan hukum. (www.arl.org)
e.      first sale doctrine : bila kita memberli karya yang mengandung copyright, kita berhak meminjamkan atau menjualnya selama kita tidak menjual karya yang merupakan hasil duplikasinya. (www.aallnet.org/committe/copyright/pages/issues/firstsale.html)
f.        pada UU Hak Cipta di Indonesia, fotokopi dapat diterapkan untuk sumber informasi digital. Batasan penggunaan tidak begitu kaku diterapkan, khususnya untuk kepentingan non komersial.
Royster (2014) menjelaskan beberapa point penting dalam penyelenggaraan layanan repositori adalah :

1)      Keberhasilan repositori dapat tercapai dengan menanggalkan agenda konvensional dan berfokus pada aset unik dan kesempatan yang dimiliki.
2)      Dua aturan : 1. Buatlah sederhana. 2. Berikan umpanbalik dengan segera. Praktik terbaik yang sudah terlaksana adalah dengan kesepakatan baik sejak pengumpulan (penyerahan karya dan izin sim pada depositor fakultas secara otomatis dengan bantuan software BE Press Digital Commons. pan), pengolahan (perlindungan, digitalisasi jika perlu, metadata, upload) hingga pengiriman Laporan bulananRepositori adalah pekerjaan penerbitan, bukan pekerjaan TI.
3)      Repositori merupakan milik depositor fakultas, bukan perpustakaan dan bukan universitas.
4)      Manajer repositori adalah pemicu, bukan pengawas.
5)      Merupakan kesatuan cendekiawan, anda tidak akan kehilangan dalam mata rantai.

Bersambung.....😁😁😅😉



maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan saya🙇😴😴   



(PDF) Penerapan Konsep Baru IR (Institutional Repository) sebagai Upaya untuk Melatih Kemampuan Menulis Pada Pejabat Fungsional Pustakawan (PFP). Available from: https://www.researchgate.net/publication/312333008_Penerapan_Konsep_Baru_IR_Institutional_Repository_sebagai_Upaya_untuk_Melatih_Kemampuan_Menulis_Pada_Pejabat_Fungsional_Pustakawan_PFP [accessed Sep 18 2018].

Thursday, September 13, 2018

Desain tata ruang perpustakaan I Part 3



Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

안녕하세요 라일린입니다


Hallo kawan....
Berjumpa lagi di blognya ahfila
Seperti biasa disini saya ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan ilmu perpustakaan. Di bahasan kali ini mengenai jenis-jenis dokumen
Okee...

Catatan kecil: sebelum penjelasan lebih lanjut tentang ilmu ini diberitahukan bahwa bahasa yang digunakan dalam artikel ini bukan bahasa yang baku dan mungkin akan sedikit keluar dari ekspektasi.


Minggu ini kita membahas tentang ruang walaupun kelihatanya sepele tapi ini penting bagi perpustakaan.

Ruang adalah 1 sela-sela antara dua (deret) tiang atau sela-sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah): rumah itu mempunyai empat buah --;2 fis rongga yang berbatas atau terlingkung oleh bidang; 3 fis rongga yang tidak berbatas, tempat segala yang ada: sejak dulu para ahli pikir kerap memperbincangkan soal -- dan waktu4 petak dalam buah (durian, petai); pangsa; -- angkasa angkasa luar; bentangan langit; 

Secara umum minimum luas ruang yang dibutuhkan untuk sebuah perpustakaan umum adalah sebagai berikut:
Perpustakaan kabupaten/ kota           : minimum 600 m2
Perpustakaan kecamatan                   : minimum 120 m2
Perpustakaan kelurahan/desa            : minimum 80 m2  

Dalam perpustakaan umum

1.        Ruang koleksi

Ruang koleksi ini terdiri dari ruang koleksi umum, ruang referensi, dan ruang alat pandang dengar.ruang koleksi umum meliputi buku fiksi, buku non-fiksi, surat kabar, majalah, kliping,brosur dll. Pada ruang referensi ini menyimpan koleksi-koleksi khusus seperti eksiklopedia,almanac,kamus,direktori, dan sebagainya.sedangkan pada ruang alat pandang dengar, alat-alat pandang dengar(audio visual material) ini biasanya diletakkan pada ruangan tersen diri. Dimana alat-alat tersebut  umumnya cukup mahal sehingga juga memerlukan suatu perawatan sendiri.
2.        Ruang baca

Pada ruang ini digunakan untuk membaca bahan pustaka sehingga pada ruang ini seharusnya berdekatan dengan ruang koleksi dan tidak memakai pembatas/dinding pemisah sehingga pemakai dapat leluasa bergerak,ketenangan dan kenyamanan.juga pada ruang ini perlu disediakan meja kusi secara pribadi(study carrel).
3.      Ruang peminjaman dan sirkulasi

Pada penataan ruangan, ruangan ini terletak berdekatan di pintu masuk/utama.sehingga pemakai perpustakaan tidak berbelit-belit dalam meminjam dan mengembalikan buku karena langsung dekat dengan pintu masuk. Pada ruang sirkulasi ini proses kegiatannya meliputi peminjaman dan pengembalian buku, pemungutan denda, pembuatan statistika, serta pendaftaran, perpanjangan dan pengunduruan diri menjadi anggota perpustakaan.
4.      Ruang lainnya
Pada ruang ini selain terdapat ruang koleksi, ruang membaca dan ruang sirkulasi juga terdapat ruang lainnya diantaranya
a.      Ruang koleksi untuk anak-anak
Menyediakan bahan-bahan pustaka yang koleksi tentang anak-anak , didesain sesuai dengan ruangan yaitu ruang untuk anak-anak dan ruangan ini di letakkan pada ruang sirkulasi karena dekat pintu utama/masuk serta juga menyediakan petugas khusus untuk anak-anak.
b.     

Kamar mandi
c.       Ruang multi media
d.      Ruang komputer




Bersambung.....😁😁😅😉


maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan saya🙇😴😴                



Tuesday, September 11, 2018

Kearsipan dan Dokumentasi - Ilmu Perpustakaan dan Informasi part 2

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- ahfila_crosscol_AdSense3_1x1_as --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-8555012021859863" data-ad-slot="5719049248" data-ad-format="auto" data-full-width-responsive="true"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script> Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hallo kawan....
Berjumpa lagi di blognya ahfila
Seperti biasa disini saya ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan ilmu perpustakaan. Di bahasan kali ini mengenai jenis-jenis dokumen
Okee...


catatan kecil: sebelum penjelasan lebih lanjut tentang ilmu ini diberitahukan bahwa bahasa yang digunakan dalam artikel ini bukan bahasa yang baku dan mungkin akan sedikit keluar dari ekspektasi.

Perlu di ketahui bahwa dalam dokumen di bagi berbagai jenis dokumen dan Ditinjau dari segi penelitian jenis jenis dokumen itu adalah:


1.    Dokumen primer adalah dokumen yang berisi informasi penelitian langsung dari sumbernya
Contoh:
a.    Ensiklopedi
Ensiklopedi dapat didefinisikan sebagai: “Sebuah karya ilmiah berisi informasi yang sangat luas, dalam berbagai bidang pengetahuan, dan biasanya disusun secara alphabetis subyek atau nama”. Istilah “sangat luas” bukan berarti semuanya. Istilah tersebut hanyalah menggambarkan sebagai sesuatu yang sangat luar biasa, seperti dengan
Istilah yang digunakan oleh Diderot, bahwa sebuah ensiklopedi memiliki nilai yang bersifat mistisius. Bukan mistik yang berarti tidak nyata, namun mendekati itu karena sangat luar biasa.

Setiap ensiklopedi yang diterbitkan, biasanya menguraikan banyak artikel secara detail, seringkali pula disertai daftar bacaan pada setiap bagian atau sub-bagiannya; ada uraian singkat dan ada uraian yang panjang disertai informasi tentang berbagai data seperti tanggal lahir dan kematian para ilmuwan terkenal, lokasi geografis dan peristiwa-peristiwa bersejarah.

b.    Kamus
Kamus berisi daftar kata dasar suatu bahasa yang disusun menurut abjad. Kamus yang baik disertai dengan keterangan mengenai bentuk, tanda baca, fungsi, asal-usul atau sejarah kata,arti, sinonim, antonim, sintaksis dan ungkapan tiap kata.

c.    Almanak dan Buku Tahunan
Almanak adalah buku yang memuat informasi tentang data atau statistik yang berkaitan dengan negara, kejadian, pejabat, subjek dan kehidupannya. Banyak almanak subyek yang diterbitkan secara tahunan atau tengah tahunan, yang kadang-kadang disebut dengan Yearbook atau Annuals atau buku tahunan. Biasanya almanak memiliki bahasan yang lebih umum dibanding dengan buku tahunan

d.    Buku pegangan dan manual
Buku pegangan (handbook) berisi informasi mengenai petunjuk dan identifikasi suatu masalah secara mendasar. Buku ini banyak memuat keterangan dan informasi yang berupa tabel-tabel, simbol, formula dan istilah yang berkaitan dengan suatu subjek yang dibahasnya. Manual adalah sebagai bahan rujukan cepat dalam satu bidang atau cabang pengetahuan
e.    Biografi
The Concise Oxford Dictionary dengan ringkas memberikan definisi biografi sebagai penulisan tentang kehidupan seseorang. Lebih lengkap lagi biografi dapat dijelaskan sebagai penulisan kehidupan seseorang yang diperoleh dari ingatan, dari bahan tertulis atau secara lisan.
f.     Sumber Geografi
Sumber geografi adalah bahan pustaka yang memuat informasi mengenai tempat, gunung, sungai, batas negara, batas wilayah, dan sebagainya yang berkaitan dengan lokasi.

2.    Dokumen sekunder adalah dokumen yang berisikan informasi mengenai literatur primer.

a.    Bibliografi
Bibliografi adalah daftar buku-buku dalam bidang atau subyek tertentu, di mana hakekat keberadaan (lokasi) buku-buku tersebut tidak dibatasi pada satu perpustakaan tertentu. Bibliografi biasanya disusun menurud abjad pengarang atau kronologis atau subyek. Kadang-kadang bibliografi disertai dengan anotasi dan disebut dengan bibliografi beranotasi.

b.    Katalog
Katalog dalam istilah perpustakaan adalah sarana yang mendaftar seluruh koleksi perpustakaan.

c.    Indeks
Indeks adalah sarana fisik yang mengacu ke bagian koleksi dokumen yang secara potensial relevan dengan permintaan informasi. Ada indeks yang menyatu dengan sebuah buku dan ada indeks yang terpisah dengan bahan pustaka yang diindeksnya.

d.    Abstrak
Abstrak disini adalah majalah abstrak, yaitu terbitan berseri dengan frekuensi teratur yang berisi sari karangan atau abstrak dari artikel penting dalam subyek tertentu yang terbit dalam majalah primer.
3.    Dokumen tersier adalah dokumen yang berisikan informasi mengenai literatur sekunder.

a.  Bibliografi dari bibliografi
Tujuan literatur tersier untuk mengetahui atau menelusur informasi sekunder:
Contoh:  Leeson, Ida. 1954. A Bliography of Bibliographies of the South Pacific. London: Oxford University Press, 1954.  
Kemp, Herman C. Annotated bibliography of bibliographies on Indonesia. Leiden: KITLV Press, 1990.

b.  Direktori
Direktori berasal dari kata direct yang berarti menunjuk. Direktori adalah suatu bahan rujukan yang memuat daftar organisasi atau perorangan, disusun secara alphabetis atau kadang-kadang secara sistematis. Jadi direktori hanya memberi informasi penunjukan, bukan memberi informasi secara langsung.

Bersambung.....😁😁😅😉

maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan saya🙇😴😴   

referensi:
Halimatus S, Firda. Modul Kearsipan tentang “Dokumen dan Dokumentasi”. Malang: Universitas Negeri Malang.
KBBI
Subrata, Gatot. Kajian ilmu perpustakaan: literatur primer, sekunder dan tersier. Pustakawan Universitas Negeri Malang -Oct-09.