BAB II
PEMBAHASAN[1]
2.1 latar
belakang muculnya eksistensialisme
Filsafat adalah
perjalanan dari satu krisis ke krisis yang lain. Ini berarti bahwa manusia yang
berfilsafat senantiasa meninjau kembali dirinya. Mungkin tidak secara tegas
manusia itu meninjau dirinya, misalnya ia mempersoalkan Tuhan atau dunia
sekelilingnya, tetapi dalam hal seperti itu manusia sesungguhnya masih
mempersoalkan dirinya juga. Sifat materialisme ternyata merupakan pendorong
lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi adalah cara orang
berada di dunia. Kata berada pada manusia tidak sama dengan beradanya pohon
atau batu. Dalam pandangan materialisme, manusia itu pada akhirnya adalah benda
seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa
manusia sama dengan benda seperti kayu dan batu. Akan tetapi materialisme
mengatakan bahwa pada akhirnya, manusia hanyalah sesuatu yang material, dengan
kata lain materi, betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih
unggul tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi, pohon, atau
batu.
Eksistensialisme
menyatakan bahwa cara manusia berada dan cara benda lain berada tidaklah sama.
Manusia berada di dunia. Sapi dan pohon juga berada di dunia. Akan tetapi cara
beradanya berbeda. Manusia berada di dunia dan ia mengalami beradanya itu.
Manusia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi
dengan mengerti apa yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna batu, pohon,
dan salah satu diantaranya adalah mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Apa
artinya semua ini? Artinya ialah manusia sebagai subjek dimana ia menyadari
secara sepenuhnya tentang segala sesuatu. Dan tentang barang-barang atau
sesuatu yang disadarinya disebut dengan subjek.
Eksistensialisme juga
lahir sebagai reaksi terhadap idealism. Materialisme dan idealisme adalah dua
pandangan filsafat tentang hakikat yang
ekstrem. Keduanya berisi benih kebenaran, dan juga kesalahan. Eksistensialisme
ingin mencari kebenaran tentang kedua ekstremitas tersbut. Materialisme
menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa menjadi subjek. Manusia
berpikir, berkesadaran. Inilah yang tidak disadari oleh materialisme. Akan
tetapi sebaliknya, aspek ini (berpikir, berkesadaran) dilebih-lebihkan oleh
idealism sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi sampai
tidak ada barang lain selain pikiran.
Letak kesalahan
idealism adalah karena memandang manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai
kesadaran. Sebaliknya, materialisme hanya melihat manusia sebagai objek.
Materialism lupa bahwa barang didunia ini disebut objek lantaran ada subjek.
Dalam pada itu,sesuatu yang aneh terjadi: materialism dan idealism sama-sama
salah, tetapi kok dapat tersebar luas, memperoleh banyak penganut, memikat hati
banyak orang. Hal itu memperlihatkan bahwa sukar bagi manusia untuk mengerti
dirinya sendiri. Rupanya manusia itu semacam rahasia bagi dirinya. Eksistensialisme
juga didorong munculnya oleh situasi dunia pada umumnya. Disini
eksistensialisme lahir sebagai reaksi terhadap dunia pada umumnya, terutama
Eropa Barat. Keadaan dunia yang bagaimana?
Secara umum dapatlah
dikatakan bahwa keadaan dunia pada waktu itu tidak menentu. Rasa takut
berkecamuk, terutama terhadap ancaman perang. Tingkah laku manusia telah
menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan manusia penuh rahasia, penuh
imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang disbut
konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura. Kebencian merajalela. Nilai sedang
mengalami krisis. Bahkan manusianya sendiri sedang mengalami krisis. Sementara
itu agama di Eropa Barat dan ditempat lain dianggap tidak mampu memberikan
makna pada kehidupan. Dibeberapa tempat orang-orang beragama sendiri justru
terlibat dalam krisis itu. Bahkan lebih dari itu, mereka ikut memperhebat
krisis. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh
ulahnya sendiri. Pokoknya manusia benar-benar mengalami krisis. Dalam keadaan
seperti itu, filosof melihat pada dirinya sendiri. Ia mengharap ada pegangan
yang dapat menyelamatkan, keluar dari krisis itu. Maka dari prose situ
tampillah eksistensialisme yang menjadikan manusia sebagai subjek dan sekaligus
objek.
1.2
tokoh-tokoh
eksistensialisme
1
Martin Heidegger.
Menurut
Martin Heidegger, keberadaan hanya akan dapat di jawab melalui jalan ontologi,
artinya jika persoalan ini di hubungkan dengan manusia dan di cari artinya
dalam hubungan itu. Metode untuk ini adalah metodologi fenomenotologis. Jadi
yang terpenting adalah menemukan arti keberadaan itu.
Satu
satunya yang berada dalam arti yang sesungguhnya adalah beradanya manusia.
Keberadaan benda benda terpisah dengan yang lain, sedang keberadaan manusia,
mengambil tepat di tengah tengah dunia sekitarnya. Keberadaan desein (berada
di sana, di tempat). Untuk itumanusia harus keluar dari dirinya dan berdiri di
tengah tengah segala yang berada. Desein manusia di sebut juga
eksistensi.
Menurut
heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya, tetapi ia dilemparkanke dalam
keberadaan. Walaupun keberadaan manusia tidak mengadakaan sendiri, bahkan
merupakan kebaradaan yang terlempar, manusia tetap harus merealisasikan
kemungkinan kemungkinanya. Tetapi dalam kenyataanya tidak menguasai dirinya
sendiri. Inilah fakta keberadaan manusia, yang timbul dari Gewefenheid atau
situasi terlemparnya itu.
1
Soren Kierkegaard
Suatu
reaksi terhadap idealisme yang sama sekali berbeda dari reaksi materialisme
ialah yang berasal dari pemikir Denmark yang bernama Soren Kierkegaard. Menurut
Kierkegaard, filsafat tidak merupakan suatu sistem, tetapi suatu
pengekspresian eksistensi Individual. Karena ia menentang filsafat yang
bercorak sistematis, dapat dimengerti mengapa ia menulis karyanya dengan
menggunakan nama samaran. Dengan cara demikian, ia mencoba menghindari anggapan
bahwa bukunya merupakan gambaran tentang fase-fase perkembangan pemikirannya.
Dengan menggunakan nama samaran, mungkinlah ia menyerang pendapat-pendapatnya
di dalam bukunya yang lain.
Pertama-tama
Kierkegaard memberi kritik terhadap Hegel. Ia berkenalan dengan filsafat Hegel
ketika belajar teologi di Universitas Kopenhagen. Mula-mula Memang ia tertarik
pada filsafat yang populer di kalangan intelektual Eropa ketika itu, tetapi
tidak lama kemudian ia melancarkan kritiknya.
Keberatan
utama yang diajukan oleh Kierkegaard ke kepada Hegel ialah karena Hegel
meremehkan eksistensi yang kongkrit karena ia (Hegel) mengutamakan idea yang
sifatnya umum. Menurutnya manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum”
tetapi sebagai “aku individual” yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan
kedalam suatu yang lain. Dengan demikian kierkegaard memperkenalkan istilah
“eksistensi” dalam suatu arti yang mempunyai peran besar pada abad ke-20. Hanya
manusia yang mampu bereksistensi, dan eksistensi saya tidak saya jalankan satu
kali untuk selamanya, tetapi pada setiap saat eksistensi saya menjadi objek
pemilihan baru. Eksistensi ialah bertindak. Tidak ada orang lain yang dapat
menggantikan tempat saya untuk bereksistensi atas nama saya.
1
Jean Paul sartre
Jean
Paul sartre adalah yang menyebabkan eksistensialisme menjadi tersebar bahkan
menjadi semacam mode sekalipun pendiri eksistensialisme Bukan dia melainkan
Soren. Sean Paul sartre lahir di Paris pada tahun 1952, meninggal pada tahun
1980. Ia belajar di ecole normale superieur pada tahun 1924 sampai 1928.
Setelah tamat dari sekolah itu pada tahun 1929 yang mengajarkan filsafat di
beberapa lycees, baik di Paris maupun di tempat lain. Bagi sartre eksistensi
manusia mendahului esensinya.
Pandangan
ini amat janggal sebab biasanya sesuatu harus ada esensinya lebih dahulu
sebelum keberadaannya. Bagaimana sebenarnya yang dimaksud oleh sartre filsafat
eksistensialisme membicarakan cara berada di dunia ini, terutama cara berada
manusia. Dengan perkataan lain Filsafat ini menempatkan cara wujud wujud manusia
sebagai tema Sentral pembahasannya. Cara itu hanya khusus ada pada manusia
karena, hanya manusialah yang bereksistensi binatang tumbuhan bebatuan memang
ada tetapi mereka tidak dapat disebut bereksistensi. Filsafat eksistensialisme
menampakkan manusia ke dunianya dan menghadapkan manusia kepada dirinya
sendiri.
BAB
III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
1. Eksistensialisme merupakan aliran
filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasarkan pada eksistensinya.
Artinya bagaimana manusia berada dalam dunia
2. Tokoh-tokoh eksistensialisme:
1)
Martin Heidegger.
2)
Soren Kierkegaard
3)
Jean Paul sartre
3.2 saran
Filsafat eksistensialisme lebih
memfokuskan pada pengalaman-pengalaman manusia. Dengan mengatakan bahwa yang
nyata adalah yang dialaminya bukan yang di luar kita. Sebaiknya, manusia mampu
menginterpretasikan semuanya atas pengalamannya.
[1] Ahmad tafsir, filsafat umum akal
dan hati sejak thales sampai capra, dian rakyat, bandung, 2013, hlm. 217
No comments:
Post a Comment