Friday, May 17, 2019

EKSISTENSIALISME


BAB II
PEMBAHASAN[1]
2.1 latar belakang muculnya eksistensialisme
Filsafat adalah perjalanan dari satu krisis ke krisis yang lain. Ini berarti bahwa manusia yang berfilsafat senantiasa meninjau kembali dirinya. Mungkin tidak secara tegas manusia itu meninjau dirinya, misalnya ia mempersoalkan Tuhan atau dunia sekelilingnya, tetapi dalam hal seperti itu manusia sesungguhnya masih mempersoalkan dirinya juga. Sifat materialisme ternyata merupakan pendorong lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi adalah cara orang berada di dunia. Kata berada pada manusia tidak sama dengan beradanya pohon atau batu. Dalam pandangan materialisme, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti kayu dan batu. Akan tetapi materialisme mengatakan bahwa pada akhirnya, manusia hanyalah sesuatu yang material, dengan kata lain materi, betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih unggul tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi, pohon, atau batu.
Eksistensialisme menyatakan bahwa cara manusia berada dan cara benda lain berada tidaklah sama. Manusia berada di dunia. Sapi dan pohon juga berada di dunia. Akan tetapi cara beradanya berbeda. Manusia berada di dunia dan ia mengalami beradanya itu. Manusia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti apa yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna batu, pohon, dan salah satu diantaranya adalah mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Apa artinya semua ini? Artinya ialah manusia sebagai subjek dimana ia menyadari secara sepenuhnya tentang segala sesuatu. Dan tentang barang-barang atau sesuatu yang disadarinya disebut dengan subjek.
Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealism. Materialisme dan idealisme adalah dua pandangan  filsafat tentang hakikat yang ekstrem. Keduanya berisi benih kebenaran, dan juga kesalahan. Eksistensialisme ingin mencari kebenaran tentang kedua ekstremitas tersbut. Materialisme menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa menjadi subjek. Manusia berpikir, berkesadaran. Inilah yang tidak disadari oleh materialisme. Akan tetapi sebaliknya, aspek ini (berpikir, berkesadaran) dilebih-lebihkan oleh idealism sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi sampai tidak ada barang lain selain pikiran.
Letak kesalahan idealism adalah karena memandang manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai kesadaran. Sebaliknya, materialisme hanya melihat manusia sebagai objek. Materialism lupa bahwa barang didunia ini disebut objek lantaran ada subjek. Dalam pada itu,sesuatu yang aneh terjadi: materialism dan idealism sama-sama salah, tetapi kok dapat tersebar luas, memperoleh banyak penganut, memikat hati banyak orang. Hal itu memperlihatkan bahwa sukar bagi manusia untuk mengerti dirinya sendiri. Rupanya manusia itu semacam rahasia bagi dirinya. Eksistensialisme juga didorong munculnya oleh situasi dunia pada umumnya. Disini eksistensialisme lahir sebagai reaksi terhadap dunia pada umumnya, terutama Eropa Barat. Keadaan dunia yang bagaimana?
Secara umum dapatlah dikatakan bahwa keadaan dunia pada waktu itu tidak menentu. Rasa takut berkecamuk, terutama terhadap ancaman perang. Tingkah laku manusia telah menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan manusia penuh rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang disbut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura. Kebencian merajalela. Nilai sedang mengalami krisis. Bahkan manusianya sendiri sedang mengalami krisis. Sementara itu agama di Eropa Barat dan ditempat lain dianggap tidak mampu memberikan makna pada kehidupan. Dibeberapa tempat orang-orang beragama sendiri justru terlibat dalam krisis itu. Bahkan lebih dari itu, mereka ikut memperhebat krisis. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Pokoknya manusia benar-benar mengalami krisis. Dalam keadaan seperti itu, filosof melihat pada dirinya sendiri. Ia mengharap ada pegangan yang dapat menyelamatkan, keluar dari krisis itu. Maka dari prose situ tampillah eksistensialisme yang menjadikan manusia sebagai subjek dan sekaligus objek.
1.2              tokoh-tokoh eksistensialisme
1        Martin Heidegger.
Menurut Martin Heidegger, keberadaan hanya akan dapat di jawab melalui jalan ontologi, artinya jika persoalan ini di hubungkan dengan manusia dan di cari artinya dalam hubungan itu. Metode untuk ini adalah metodologi fenomenotologis. Jadi yang terpenting adalah menemukan arti keberadaan itu.
Satu satunya yang berada dalam arti yang sesungguhnya adalah beradanya manusia. Keberadaan benda benda terpisah dengan yang lain, sedang keberadaan manusia, mengambil tepat di tengah tengah dunia sekitarnya. Keberadaan desein (berada di sana, di tempat). Untuk itumanusia harus keluar dari dirinya dan berdiri di tengah tengah segala yang berada. Desein manusia di sebut juga eksistensi.
Menurut heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya, tetapi ia dilemparkanke dalam keberadaan. Walaupun keberadaan manusia tidak mengadakaan sendiri, bahkan merupakan kebaradaan yang terlempar, manusia tetap harus merealisasikan kemungkinan kemungkinanya. Tetapi dalam kenyataanya tidak menguasai dirinya sendiri. Inilah fakta keberadaan manusia, yang timbul dari Gewefenheid atau situasi terlemparnya itu.
1        Soren Kierkegaard
Suatu reaksi terhadap idealisme yang sama sekali berbeda dari reaksi materialisme ialah yang berasal dari pemikir Denmark yang bernama Soren Kierkegaard. Menurut Kierkegaard, filsafat tidak merupakan suatu sistem, tetapi suatu pengekspresian eksistensi Individual. Karena ia menentang filsafat yang bercorak sistematis, dapat dimengerti mengapa ia menulis karyanya dengan menggunakan nama samaran. Dengan cara demikian, ia mencoba menghindari anggapan bahwa bukunya merupakan gambaran tentang fase-fase perkembangan pemikirannya. Dengan menggunakan nama samaran, mungkinlah ia menyerang pendapat-pendapatnya di dalam bukunya yang lain.
Pertama-tama Kierkegaard memberi kritik terhadap Hegel. Ia berkenalan dengan filsafat Hegel ketika belajar teologi di Universitas Kopenhagen. Mula-mula Memang ia tertarik pada filsafat yang populer di kalangan intelektual Eropa ketika itu, tetapi tidak lama kemudian ia melancarkan kritiknya.
Keberatan utama yang diajukan oleh Kierkegaard ke kepada Hegel ialah karena Hegel meremehkan eksistensi yang kongkrit karena ia (Hegel) mengutamakan idea yang sifatnya umum. Menurutnya manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum” tetapi sebagai “aku individual” yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan kedalam suatu yang lain. Dengan demikian kierkegaard memperkenalkan istilah “eksistensi” dalam suatu arti yang mempunyai peran besar pada abad ke-20. Hanya manusia yang mampu bereksistensi, dan eksistensi saya tidak saya jalankan satu kali untuk selamanya, tetapi pada setiap saat eksistensi saya menjadi objek pemilihan baru. Eksistensi ialah bertindak. Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan tempat saya untuk bereksistensi atas nama saya.
1        Jean Paul sartre
Jean Paul sartre adalah yang menyebabkan eksistensialisme menjadi tersebar bahkan menjadi semacam mode sekalipun pendiri eksistensialisme Bukan dia melainkan Soren. Sean Paul sartre lahir di Paris pada tahun 1952, meninggal pada tahun 1980. Ia belajar di ecole normale superieur pada tahun 1924 sampai 1928. Setelah tamat dari sekolah itu pada tahun 1929 yang mengajarkan filsafat di beberapa lycees, baik di Paris maupun di tempat lain. Bagi sartre eksistensi manusia mendahului esensinya.
Pandangan ini amat janggal sebab biasanya sesuatu harus ada esensinya lebih dahulu sebelum keberadaannya. Bagaimana sebenarnya yang dimaksud oleh sartre filsafat eksistensialisme membicarakan cara berada di dunia ini, terutama cara berada manusia. Dengan perkataan lain Filsafat ini menempatkan cara wujud wujud manusia sebagai tema Sentral pembahasannya. Cara itu hanya khusus ada pada manusia karena, hanya manusialah yang bereksistensi binatang tumbuhan bebatuan memang ada tetapi mereka tidak dapat disebut bereksistensi. Filsafat eksistensialisme menampakkan manusia ke dunianya dan menghadapkan manusia kepada dirinya sendiri.



BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
1.      Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasarkan pada eksistensinya. Artinya bagaimana manusia berada dalam dunia
2.      Tokoh-tokoh eksistensialisme:
1)      Martin Heidegger.
2)      Soren Kierkegaard
3)      Jean Paul sartre
3.2 saran
Filsafat eksistensialisme lebih memfokuskan pada pengalaman-pengalaman manusia. Dengan mengatakan bahwa yang nyata adalah yang dialaminya bukan yang di luar kita. Sebaiknya, manusia mampu menginterpretasikan semuanya atas pengalamannya.


[1] Ahmad tafsir, filsafat umum akal dan hati sejak thales sampai capra, dian rakyat, bandung, 2013, hlm. 217

No comments:

Post a Comment