BAB II
PEMBAHASAN
A.
Katalog Manual
Katalog berasal dari bahasa Indonesia berasal
dari kata Catalog dalam bahasa Belanda, serta Catalogue dari
bahasa Inggris. Istilah katalog itu sendiri berasal dari frase Yunani Katalogos.
Kata bermakna sarana atau menurut, sedangkan logos memiliki
berbagai arti seperti kata, susunan, alasan dan nalar. Jadi katalog dari segi
kata bermakna sebuah karya dengan isinya disusun menuruit cara yang masuk akal.
Menurut sebuah simpanan rencana atau hanya berdasarkan kata demi kata.(strout
1957).
Sulistyo-Basuki (1991:315) mengatakan, katalog perpustakaan adalah daftar buku
dalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi. Daftar menunjukkan adanya
susunan menurut prinsip tertentu sedangkan buku mencakup arti buku dalam arti
luas. Perpustakaan sangat membutuhkan katalog untuk menunjukkan ketersediaan
koleksi yang dimilikinya. Untuk itu perpustakaan memerlukan suatu daftar yang
berisikan informasi bibliografis dari koleksi yang dimilikinya.
Menurut Yusuf (2007:46), fungsi umum katalog
antara lain:
1.
Menunjukkan tempat suatu buku atau
bahan lain dengan menggunakan simbol-simbol angka klasifikasi dalam bentuk
nomor panggil (call number).
2.
Mendaftar semua buku dan bahan lain
dalam susunan alfabetis nama pengarang, judul buku, atau subjek buku yang
bersangkutan, kedalam satu tempat khusus di perpustakaan guna memudahkan
pencarian entri-entri yang diperlukan.
3.
Memberikan kemudahan untuk mencari
suatu buku atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya mengetahui salah satu
dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan. Misalnya orang bisa mencari
buku dengan hanya mengetahui nama pengarangnya saja sementara judul dan
keterangan lainnya lupa, atau orang juga bisa mencari suatu buku hanya dengan
melalui judul buku saja tanpa mengetahui nama pengarangnya. Hal tersebut bisa
dilakukan melalui subjek dari buku yang bersangkutan.
Tujuan katalog menurut Cutter dalam (Sulistyo-Basuki, 1991:316):
1.
Memungkinkan seseorang menemukan
sebuah buku yang diketahui berdasarkan pengarangnya, judul atau subjeknya.
2.
menunjukkan buku yang dimiliki
perpustakaan oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek dalam jenis literatur
tertentu.
3.
membantu dalam pemlihan buku berdasarkan
edisinya atau berdasarkan karakternya.
Bentuk katalog yang digunakan di perpustakaan
mengalami perkembangan dari masa ke masa. Perkembangan katalog perpustakaan
nampak dari perubahan bentuk fisiknya. Sebelum katalog terpasang (online)
muncul, telah dikenal berbagai bentuk katalog perpustakaan, dan bentuk yang
paling umum digunakan ialah katalog kartu. Katalog perpustakaan yang ada pada
saat ini terdiri dari berbagai bentuk fisik antara lain, katalog kartu, katalog
buku, katalog berkas, dan katalog terpasang (Suhendar, 2010:6)
Beberapa definisi katalog menurut ilmu
perpustakaan dapat disebutkan sebagai berikut :
1.
Katalog berarti
daftar berbagai jenis koleksi perpustakaan yang disusun menurut sistem
tertentu.(Fathmi, 2004)
2.
A catalogue is
a list of, an index to, a collection of books and/or other materials. It
enables the user to discover : what material is present in the collection,
where this material may be found. (Hunter)
3.
Suatu daftar
yang sistematis dari buku dan bahan-bahan lain dalam suatu perpustakaan ,dengan
informasi deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk
fisik, subjek, ciri khas bahan dan tempatnya. (Gates).
4.
katalog
perpustakaan adalah daftar buku atau koleksi pustaka dalam suatu perpustakaan
atau dalam suatu koleksi. (Sulistyo Basuki, 1991).
5.
Katalog
perpustakaan merupakan suatu rekaman atau daftar bahan pustaka yang dimiliki
oleh suatu perpustakaan atau beberapa perpustakaan yang disusun menurut aturan
dan sistem tertentu. (Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan, 2003)
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
katalog merupakan daftar dari koleksi perpustakaan atau beberapa perpustakaan
yang disusun secara sistematis, sehingga memungkinkan pengguna perpustakaan
dapat mengetahui dengan mudah koleksi apa yang dimiliki oleh perpustakaan dan
dimana koleksi tersebut dapat ditemukan.
B.
Online Public
Access Catalog
Dalam suatu perpustakaan katalog merupakan
komponen yang sangat penting dalam hal temu balik informasi sekaligus sebagai
identitas suatu koleksi ataupun informasi. Menurut Sulistyo Basuki katalog
adalah daftar buku atau koleksi pustaka dalam suatu perpustakaan atau suatu
koleksi.
Online Public Accsess Catalog adalah kumpulan
dari sebuah katalog koleksi yang berada dalam satu database yang
terintegrasi oleh sirkulasi sistem pelayanan peminjaman dan mempunyai fitur
temu balik informasi dan koleksi. Menurut Saleh dan Mustafa (1992) Katalog
online atau OPAC merupakan sistem katalog perpustakaan yang menggunakan
komputer. Pangkalan datanya biasanya dibuat sendiri oleh suatu perpustakaan
dengan memanfaatkan sebuah perangkat lunak komersial atau buatan sendiri.
Katalog ini memberikan
informasi bibliografis dan letak lokasinya. Sanagt cepat dan simple dalam hal
temu kembali informasi dan koleksi. Adapun fungsi dari OPAC pada dasarnya
adalah sebagai berikut :
2.
Sebagai media
untuk manajemen koleksi.
3.
Sebagai alat
bantu dalam hal sirkulasi dan informasi ketersediaan koleksi untuk user.
4.
Sebagai media
informasi tentang koleksi.
Manfaat yang diperoleh bagi pengguna adalah mempermudah
penelusuran informasi, menghemat waktu dan tenaga. Bagi perpustakaan adalah
mempermudah dalam mengolah bahan pustaka, meringankan pekerjaan, serta bahan pustaka dapat dimanfaatkan lebih optimal. Dari hasil pengamatan
di lapangan menunjukkan bahwa katalog menduduki tempat penting dalam unit
informasi untuk menelusuri bahan pustaka yang ada pada zaman sekarang.
Fasilitas katalog online maupun katalog kartu yang sudah ada akan
menyebabkan para pemustaka tidak menyadari manfaat katalog tersebut.
Pemustaka cenderung mencari buku atau informasi yang diperlukan langsung ke rak
koleksi, yang akan memakan waktu cukup lama dalam penelusuran informasi di
perpustakan tersebut.
Sulistyo-Basuki (1991:62) menyatakan, OPAC dibuat
dengan menggunakan format Machine Readable Catalogue (MARC), yaitu
berupa format katalog dimana data bibliografi dimasukkan ke dalam tengara
(tag). Penyimpanan itu berdampak terhadap proses temu balik dan pertukaran data
bibliografis. Pendapat ini menunjukkan fungsi OPAC sebagai sarana temu balik
informasi yang dapat diintegrasikan dengan sistem sirkulasi. OPAC juga dapat
mengetahui lokasi atau tempat penyimpanannya.
Hermanto (2011) pada artikel
perpustakaan UNS. Manfaat menggunakan katalog online adalah, penelusuran
informasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, penelusuran dapat dilakukan
dimana saja tidak harus datang ke perpustakaan, menghemat waktu dan tenaga,
pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi apakah sedang dipinjam atau tidak,
pengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan pustaka, dapat
menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan, meningkatkan layanan
perpustakaan, keberadaan perpustakaan diketahui masyarakat luas.
OPAC dinyatakan sebagai katalog yang
interaktif, karena sistem tersebut menyediakan komunikasi antara pengguna
dengan komputer dalam suatu metode atau cara yang bersifat dialog. Fattahi
(1995:5) menyatakan, OPAC dapat memberikan reaksi dan respon pengguna dalam
suatu cara yang cerdas. Cara itu digunakan untuk menunjukkan pilihan
penelusuran yang tersedia, mengoreksi pengoperasian yang salah, menunjukkan
alternatif dokumen yang cocok dengan kriteria penelusuran dan menuntun pengguna
selama melakukan penelusuran. Pendekatan yang terakhir ini tidak mungkin bisa
dilakukan pada katalog kartu.
C.
Sejarah adanya OPAC
Perpustakaan katalog akses publik online
diperkenalkan pada awal 1980-an. Dalam merancang studi kegunaan kami, kami
dimasukkan apa yang kita rasakan menjadi beberapa yang terbaik, metode yang
paling berguna dari penelitian sebelumnya. Namun, penelitian kami adalah unik
karena membandingkan empat OPACs perpustakaan yang berbeda (baik akademis dan
umum) dari lokasi geografis tertentu, Seattle.
Pada tahun 1999, Chisman, Diller, dan Walbridge
melakukan studi kegunaan dari Washington State University Library OPAC.
perpustakaan sedang mempersiapkan untuk menerapkan versi baru dari OPAC, dan
sebelum melakukannya, ingin menguji bagaimana dapat digunakan katalog baru itu,
tes apakah orang mengerti fitur-fiturnya, dan memasukkan umpan balik peserta ke
dalam desain OPAC baru . Chis manusia, Diller, dan Walbridge menemukan bahwa
sebagian besar masalah OPACs terkait dengan subjek indeks dan database artikel;
peserta tidak bisa menemukan dan tidak mengerti bagaimana menggunakan fitur
ini.
Pada tahun
2002, Halcoussis et al melakukan studi kegunaan dari California Institute of
the Arts Library OPAC untuk mengidentifikasi “faktor penyebab menentukan
Katalog keberhasilan pengguna dalam mencari informasi, sikap pengguna untuk
katalog organisasi, dan kemampuan pengguna untuk menavigasi katalog (p. 148).
”para peneliti ini memiliki peserta melakukan empat berbagai jenis pencarian,
mencatat observasi, dan kemudian memiliki peserta menjawab pertanyaan evaluatif
tentang katalog. Halcoussis et al menemukan bahwa subjek-pencari lebih mungkin
untuk mengalami kesulitan saat menggunakan katalog perpustakaan dan karena itu
lebih mungkin untuk melihat katalog dalam cara yang negatif. Selain itu,
pengguna yang menghabiskan banyak waktu pada pencarian dan mengambil sejumlah
besar hasil pencarian juga lebih mungkin untuk melaporkan mengalami kesulitan
menggunakan OPAC.
Pada tahun 2004, Novotny melakukan studi
analisis protokol untuk menentukan kegunaan dari Pennsylvania State University
Library OPAC. Peserta untuk menyelesaikan lima tugas terstruktur menggunakan
katalog dan memberitahu pengamat persis apa yang mereka pikirkan saat mereka
menyelesaikan tugas masing-masing. Para peneliti menemukan bahwa penggunaan
mesin pencari internet memiliki efek mendalam pada cara pengunjung perpustakaan
mencoba untuk menggunakan dan harapan yang mereka miliki untuk OPACs
perpustakaan. Karena OPACs perpustakaan tidak selalu dirancang untuk bekerja
dengan cara yang sama seperti mesin pencari internet, ini menciptakan beberapa
masalah bagi peserta dan menyoroti bidang katalog yang dapat dimodifikasi untuk
membantu pengguna mencari lebih efektif .
D.
Penggunaan OPAC
di Universitas Annamalai
Dari jurnal
yang menjadi refrensi membahas tentang OPAC di Universitas Annamalai
yang terletak di india. Penelitian itu juga termasuk mahasiswa pascasarjana,
sarjana penelitian dan anggota fakultas dari Universitas Annamalai
Perpustakaan. Tujuan utama dari penelitian adalah untuk menilai tujuan,
pengetahuan dan frekuensi menggunakan OPAC dan masalah yang dihadapi oleh
pengguna. Sebuah sampel dari pengguna 400 diambil meliputi berbagai disiplin
ilmu seperti Seni, Sains, Teknik, Kedokteran dan ilmu Pertanian.
Metodologi yang
di gunakan adalah kuesioner. Kuesioner
dirancang untuk mengumpulkan data primer yang didistribusikan di antara
pengguna 400 dari Annamalai Perpustakaan Universitas selama tahun akademik
2010-2011. perawatan yang tepat diambil untuk memilih sampel yang representatif
dari setiap kategori secara proporsional atas dasar kekuatan total dari
kategori yang bersangkutan. Sebanyak 268 dari 400 responden selesai dan kembali
kuesioner memberikan keseluruhan, tingkat tanggapan 67 persen. Hal yang di bahas
dalam jurnal tersebut adalah:
1.
Frekuensi
Menggunakan OPAC
Tabel 3. Frekuensi menggunakan OPAC
|
Frekuensi
|
Jumlah Responden
|
Persentase
|
|
Sering
|
84
|
31,35
|
|
Kadang
|
68
|
25,38
|
|
Jarang
|
56
|
20,89
|
|
Tak pernah
|
60
|
22,38
|
|
Total
|
268
|
100.00
|
Hal ini penting untuk mengetahui seberapa
sering pengguna menggunakan OPAC untuk mencari dokumen yang diperlukan mereka.
Frekuensi menggunakan OPAC menunjukkan nilainya di perpustakaan. Tabel-3
menunjukkan frekuensi penggunaan OPAC. Tabel menggambarkan bahwa dari total
pengguna 268 hanya 31,35% responden sering menggunakan OPAC, 25,38% responden
digunakan sesekali, 20,89% responden jarang digunakan dan 22,38% responden
tidak pernah digunakan OPAC. Tabel -3 menunjukkan lebih lanjut bahwa hanya
sepertiga dari responden yang digunakan OPAC sering.
2.
Masalah untuk
tidak pernah menggunakan OPAC
Tabel 4. Masalah untuk
tidak pernah menggunakan OPAC
|
alasan
|
Jumlah
Responden
|
Persentase
|
|
Kurangnya
pengetahuan
|
57
|
95.00
|
|
Membingungkan
untuk menggunakan
|
42
|
70.00
|
|
tidak ada
output
|
31
|
51,66
|
|
Kurangnya
bantuan dari staf perpustakaan
|
27
|
45.00
|
|
kecepatan
lambat
|
22
|
36.66
|
|
Kurangnya
sistem komputer
|
15
|
25.00
|
Seperti
disajikan pada Tabel 3, di antara responden, 60 (22,38%) tidak pernah digunakan
OPAC. responden ini diminta untuk memberikan alasan untuk tidak pernah
menggunakan OPAC. Tabel 4 menunjukkan bahwa 95% dari 60 responden menyatakan
kurangnya pengetahuan, 70% dinyatakan membingungkan untuk digunakan, 51,66%
menyatakan tidak ada output, 45% menyatakan kurangnya bantuan dari staf
perpustakaan, 36,66% menyatakan kecepatan lambat dan sekitar satu kurangnya
menyatakan keempat sistem komputer.
3.
Metode
Alternatif Digunakan oleh Pengguna
Tabel 5. metode alternatif yang digunakan oleh pengguna
|
metode alternatif
|
Jumlah
Responden
|
Persentase
|
|
Konsultasikan
katalog kartu
|
35
|
58,33
|
|
rak pencarian
individual
|
48
|
80.00
|
|
Meminta staf
perpustakaan
|
26
|
43,33
|
|
Meminta
teman-teman
|
17
|
28.33
|
Pendapat tentang metode alternatif yang
digunakan oleh pengguna yang tidak pernah menggunakan OPAC terwakili dalam
Tabel 5. Keluar dari pengguna 60 58,33% katalog kartu berkonsultasi untuk
mencari dokumen-dokumen, 80% mencari rak-rak perpustakaan sendiri. Selanjutnya,
43,33% menempuh jalur bantuan dari staf perpustakaan untuk mengetahui dokumen,
dan 28,33% menempuh jalur bantuan dari teman-teman. Dengan demikian, jelas dari
Tabel 5 yang mayoritas para pengguna lebih suka mencari rak atau berkonsultasi
katalog kartu untuk menemukan dokumen yang diperlukan.
4.
Tujuan
Menggunakan OPAC
Tabel 6. Tujuan
menggunakan OPAC
|
Tujuan menggunakan OPAC
|
Jumlah Responden
|
Persentase
|
|
|
Untuk mengetahui
ketersediaan
|
154
|
74,03
|
|
|
dokumen yang dipersyaratkan
|
|
||
|
|
|
|
|
|
Untuk mengetahui apakah
diperlukan
|
87
|
41,82
|
|
|
dokumen yang diterbitkan
|
|
||
|
|
|
|
|
|
Untuk mengetahui lokasi
|
163
|
78,36
|
|
|
dokumen yang diperlukan
|
|
||
|
|
|
|
Tabel 6
menunjukkan tujuan menggunakan OPAC ditunjukkan. Ini menggambarkan bahwa 74,03%
dari pengguna berkonsultasi OPAC untuk mengetahui ketersediaan dokumen yang
diperlukan di perpustakaan, 41,82% untuk mengetahui apakah dokumen yang
diperlukan ditempatkan dan 78,36% untuk mengetahui lokasi dari dokumen yang
diperlukan. Hal ini jelas dari Tabel 6 yang sebagian besar pengguna
berkonsultasi OPAC untuk mengetahui ketersediaan dan lokasi dari dokumen yang
dipersyaratkan.
5.
Ketersediaan
Staf Perpustakaan di Sekitar OPAC
Tabel 7. Ketersediaan Staf Perpustakaan di sekitar OPAC
|
Ketersediaan staf
|
Jumlah Responden
|
Persentase
|
|
|
|
|
|
Selalu
|
77
|
37,01
|
|
|
|
|
|
Biasanya
|
56
|
26,93
|
|
|
|
|
|
Kadang
|
38
|
18,26
|
|
|
|
|
|
Jarang
|
24
|
11,54
|
|
|
|
|
|
Tak pernah
|
13
|
6,26
|
|
|
|
|
|
Total
|
208
|
100.00
|
Tabel 7 menunjukkan tanggapan tentang
ketersediaan staf perpustakaan untuk membantu pengguna untuk menggunakan OPAC.
Tabel ini mengungkapkan bahwa hanya 37,01% pengguna menemukan bahwa staf
perpustakaan adalahselalu tersedia di dekat OPAC, 26,93% menemukan staf
perpustakaan biasanya tersedia, 18,26% ditemukan kadang-kadang tersedia, 11,54%
ditemukan jarang tersedia dan 6,26% ditemukan tidak pernah tersedia di dekat OPAC
6.
Kecukupan
Komputer untuk OPAC Gunakan
|
Kecukupan komputer
|
Jumlah
Responden
|
Persentase
|
|
Sangat setuju
|
37
|
17,78
|
|
Setuju
|
82
|
39,43
|
|
Netral
|
45
|
21,63
|
|
Tidak setuju
|
28
|
13,47
|
|
Sangat tidak setuju
|
16
|
7,69
|
|
Total
|
208
|
100.00
|
Tabel-8
merupakan pendapat responden tentang kecukupan komputer yang tersedia di
perpustakaan untuk digunakan OPAC. Tabel menunjukkan bahwa hanya 17,78%
pengguna sangat setuju bahwa jumlah komputer adalah kecukupan, lebih dari
sepertiga dari pengguna setuju dengan ketersediaan komputer, 21,63% netral
tentang hal itu, 13,47% yang tidak setuju dengan ketersediaan komputer, dan
sangat sedikit 7,69% sangat tidak setuju dengan ketersediaan komputer. Hal ini
jelas dari Tabel 15 bahwa mayoritas pengguna berpendapat bahwa jumlah komputer
adalah kecukupan untuk digunakan OPAC.
7.
Secara
keseluruhan Tingkat Kepuasan Menggunakan OPAC
Tabel 10. Secara keseluruhan Tingkat Kepuasan Menggunakan
OPAC
|
Tingkat
kepuasan
|
Jumlah
Responden
|
Persentase
|
|
Sangat puas
|
42
|
20,19
|
|
Puas
|
87
|
41,83
|
|
cukup puas
|
61
|
29.33
|
|
Tidak puas
|
13
|
6,25
|
|
Sangat tidak
puas
|
5
|
2,40
|
|
Total
|
208
|
100.00
|
Tabel 10
menunjukkan tingkat kepuasan secara keseluruhan pengguna di menggunaan OPAC.
Ini menyoroti bahwa dari pengguna 208 sekitar seperlima dari pengguna 20,19%
sepenuhnya puas dengan penggunaan OPAC, hampir setengah dari responden merasa
puas dan satu -Ketiga cukup puas dengan menggunakan OPAC. Hanya 6,25% merasa
tidak puas dengan penggunaan OPAC dan 2,40% sangat puas dengan menggunakan OPAC.
Terbukti, jelas bahwa hanya sebagian besar pengguna puas dengan OPAC kerja.
E.
Perbandingan dengan perpustakaan daerah trenggalek
Berdasarkan pada pada pembahasan poin D
yang telah dijelaskan perlu dilakukan pemecahan masalah terhadap penggunaan OPAC
(Online Public Access Catalog) dalam pencarian informasi pada dinas
perpustakaan dan kearsipan daerah trenggalek adalah sebagai berikut:
1.
Fasilitas penunjang seperti komputer
hasus ditambah lebih banyak. Karena komputer yang digunakan untuk penelusuran
bahan pustaka masih sedikit, sedangkan pengguna yang akan memanfaatkan jasa
perpustakaan banyak dan tidak sebanding dengan ketersediaan komputer untuk
pencarian informasi bahan pustaka yang diperlukan. Apabila komputer tersebut di
perbanyak mungkin akan mempercepat proses penelusuran informasi sehingga tidak
menyebabkan antri dan akan memakin waktu yang cukup lama.
2.
Sebaiknya harus dibuat panduan atau
pedoman cara menggunakan katalog online tersebut dan diletakkan di dekat
komputer yang akan digunakan. Dan seharusnya bimbingan dan pengarahan dari
pustakawan tentang bagaimana cara menggunakan katalog online sebagai
alat telusur lebih ditingkatkan lagi misalnya waktu bimbingan dan pengarahan
lebih ditambah lagi, dan sistem OPAC yang digunakan juga harus user friendly
sehingga lebih memudahkan pengguna dan mempercepat proses penelusuran informasi
3.
Seharusnya informasi yang disediakan
di katalog online harus lebih lengkap lagi, selain koleksi yang disediakan,
informasi lain seperti banyak eksemplar dipinjam atau tidaknya buku tersebut
seharusnya bisa dimasukkan ke dalam katalog online atau OPAC tersebut
sehingga terlihat lebih efektif dan efisien dan ini sangat memudahkan pengguna
dalam pencarian informasi atau buku yang dicarinya, dan informasi mengenai
koleksi-koleksi terbaru dari perpustakaan tersebut seharusnya juga dimasukkan
ke dalam katalog online tersebut.
Kendala dalam Penggunaan OPAC (Online
Public Access Catalog) di Perpustakaan adalah Komputer yang digunakan
masih kurang hanya dua unit perangkat komputer. dua unit komputer tersebut
terkadang hanya satu yang bisa digunakan karena komputer tersebut sering
mengalami kerusakan. Kerusakan ini mengganggu pengguna dalam penelusuran
informasi. Dan dua unit komputer tersebut salah satunya digunakan untuk login
pemustaka atau untuk mengisi daftar hadir memustaka. Pada saat jam tertentu
pengguna antri dalam menggunakan katalog tersebut, sehingga cukup memakan waktu
yang lama. Hal tersebut membuat pengguna bosan untuk menelusuri informasi
dengan menggunakan katalog online atau OPAC, dan pengguna terkadang
lebih memilih mencari buku atau bahan koleksi dengan langsung mengunjungi rak
koleksi tersebut.
Pengguna menelusur informasi tersebut
kebanyakan hanya dengan menggunakan judul, pengarang dan subjek jarang sekali
digunakan dalam proses pencarian tersebut. Hal ini dikarenakan masih kuranngnya
pengetahuan pengguna tentang cara menelusur informasi tersebut. Padahal di
dalam katalog online atau OPAC tersebut disediakan cara menelusur dengan
menggunakan nama pengarang atau subjek. Hal ini dapat terjadi karena OPAC atau
katalog online yang digunakan kurang user friendly maksudnya OPAC
yang digunakan tidak mudah dimengerti oleh pengguna sehingga masih banyak
pengguna yang belum mengetahui cara menelusuri informasi dengan menggunakan
pengarang dan subjek tersebut.
Informasi yang disediakan atau yang disajikan
di dalam OPAC tersebut masih kurang lengkap seperti informasi mengenai koleksi
terbaru dari perpustakaan tersebut tidak ada, dan mungkin belum semua bahan
pustaka dimasukkan kedalam OPAC tersebut, ini dapat dilihat dari buku yang di
cari oleh pengguna terkadang tidak tersedia dan juga tidak ditemukan. Informasi
mengenai buku-buku terbaru juga tidak tersedia di dalam katalog online
tersebut.
No comments:
Post a Comment