Friday, May 17, 2019

Online Public Accsess Catalog


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Katalog Manual
Katalog berasal dari bahasa Indonesia berasal dari kata Catalog dalam bahasa Belanda, serta Catalogue dari bahasa Inggris. Istilah katalog itu sendiri berasal dari frase Yunani Katalogos. Kata bermakna sarana atau menurut, sedangkan logos memiliki berbagai arti seperti kata, susunan, alasan dan nalar. Jadi katalog dari segi kata bermakna sebuah karya dengan isinya disusun menuruit cara yang masuk akal. Menurut sebuah simpanan rencana atau hanya berdasarkan kata demi kata.(strout 1957). Sulistyo-Basuki (1991:315) mengatakan, katalog perpustakaan adalah daftar buku dalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi. Daftar menunjukkan adanya susunan menurut prinsip tertentu sedangkan buku mencakup arti buku dalam arti luas. Perpustakaan sangat membutuhkan katalog untuk menunjukkan ketersediaan koleksi yang dimilikinya. Untuk itu perpustakaan memerlukan suatu daftar yang berisikan informasi bibliografis dari koleksi yang dimilikinya.
Menurut Yusuf (2007:46), fungsi umum katalog antara lain:
1.      Menunjukkan tempat suatu buku atau bahan lain dengan menggunakan simbol-simbol angka klasifikasi dalam bentuk nomor panggil (call number).
2.      Mendaftar semua buku dan bahan lain dalam susunan alfabetis nama pengarang, judul buku, atau subjek buku yang bersangkutan, kedalam satu tempat khusus di perpustakaan guna memudahkan pencarian entri-entri yang diperlukan.
3.      Memberikan kemudahan untuk mencari suatu buku atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya mengetahui salah satu dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan. Misalnya orang bisa mencari buku dengan hanya mengetahui nama pengarangnya saja sementara judul dan keterangan lainnya lupa, atau orang juga bisa mencari suatu buku hanya dengan melalui judul buku saja tanpa mengetahui nama pengarangnya. Hal tersebut bisa dilakukan melalui subjek dari buku yang bersangkutan.

Tujuan katalog menurut Cutter dalam (Sulistyo-Basuki, 1991:316):
1.      Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan pengarangnya, judul atau subjeknya.
2.      menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek dalam jenis literatur tertentu.
3.      membantu dalam pemlihan buku berdasarkan edisinya atau berdasarkan karakternya.
Bentuk katalog yang digunakan di perpustakaan mengalami perkembangan dari masa ke masa. Perkembangan katalog perpustakaan nampak dari perubahan bentuk fisiknya. Sebelum katalog terpasang (online) muncul, telah dikenal berbagai bentuk katalog perpustakaan, dan bentuk yang paling umum digunakan ialah katalog kartu. Katalog perpustakaan yang ada pada saat ini terdiri dari berbagai bentuk fisik antara lain, katalog kartu, katalog buku, katalog berkas, dan katalog terpasang (Suhendar, 2010:6)
Beberapa definisi katalog menurut ilmu perpustakaan dapat disebutkan sebagai berikut :
1.       Katalog berarti daftar berbagai jenis koleksi perpustakaan yang disusun menurut sistem tertentu.(Fathmi, 2004)
2.       A catalogue is a list of, an index to, a collection of books and/or other materials. It enables the user to discover : what material is present in the collection, where this material may be found. (Hunter)
3.       Suatu daftar yang sistematis dari buku dan bahan-bahan lain dalam suatu perpustakaan ,dengan informasi deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk fisik, subjek, ciri khas bahan dan tempatnya. (Gates).
4.       katalog perpustakaan adalah daftar buku atau koleksi pustaka dalam suatu perpustakaan atau dalam suatu koleksi. (Sulistyo Basuki, 1991).
5.       Katalog perpustakaan merupakan suatu rekaman atau daftar bahan pustaka yang dimiliki oleh suatu perpustakaan atau beberapa perpustakaan yang disusun menurut aturan dan sistem tertentu. (Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan, 2003)
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa katalog merupakan daftar dari koleksi perpustakaan atau beberapa perpustakaan yang disusun secara sistematis, sehingga memungkinkan pengguna perpustakaan dapat mengetahui dengan mudah koleksi apa yang dimiliki oleh perpustakaan dan dimana koleksi tersebut dapat ditemukan.
B.       Online Public Access Catalog
Dalam suatu perpustakaan katalog merupakan komponen yang sangat penting dalam hal temu balik informasi sekaligus sebagai identitas suatu koleksi ataupun informasi. Menurut Sulistyo Basuki katalog adalah daftar buku atau koleksi pustaka dalam suatu perpustakaan atau suatu koleksi.
Online Public Accsess Catalog adalah kumpulan dari sebuah katalog koleksi yang berada dalam satu database yang terintegrasi oleh sirkulasi sistem pelayanan peminjaman dan mempunyai fitur temu balik informasi dan koleksi. Menurut Saleh dan Mustafa (1992) Katalog online atau OPAC merupakan sistem katalog perpustakaan yang menggunakan komputer. Pangkalan datanya biasanya dibuat sendiri oleh suatu perpustakaan dengan memanfaatkan sebuah perangkat lunak komersial atau buatan sendiri. Katalog ini memberikan informasi bibliografis dan letak lokasinya. Sanagt cepat dan simple dalam hal temu kembali informasi dan koleksi. Adapun fungsi dari OPAC pada dasarnya adalah sebagai berikut :
1.       Sebagai media temu balik koleksi atau informasi.
2.       Sebagai media untuk manajemen koleksi.
3.       Sebagai alat bantu dalam hal sirkulasi dan informasi ketersediaan koleksi untuk user.
4.       Sebagai media informasi tentang koleksi.
Manfaat yang diperoleh bagi pengguna adalah mempermudah penelusuran informasi, menghemat waktu dan tenaga. Bagi perpustakaan adalah mempermudah dalam mengolah bahan pustaka, meringankan pekerjaan, serta bahan pustaka dapat dimanfaatkan lebih optimal. Dari hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa katalog menduduki tempat penting dalam unit informasi untuk menelusuri bahan pustaka yang ada pada zaman sekarang. Fasilitas katalog online maupun katalog kartu yang sudah ada akan menyebabkan para pemustaka tidak menyadari manfaat katalog tersebut. Pemustaka cenderung mencari buku atau informasi yang diperlukan langsung ke rak koleksi, yang akan memakan waktu cukup lama dalam penelusuran informasi di perpustakan tersebut.
Sulistyo-Basuki (1991:62) menyatakan, OPAC dibuat dengan menggunakan format Machine Readable Catalogue (MARC), yaitu berupa format katalog dimana data bibliografi dimasukkan ke dalam tengara (tag). Penyimpanan itu berdampak terhadap proses temu balik dan pertukaran data bibliografis. Pendapat ini menunjukkan fungsi OPAC sebagai sarana temu balik informasi yang dapat diintegrasikan dengan sistem sirkulasi. OPAC juga dapat mengetahui lokasi atau tempat penyimpanannya.
Hermanto (2011) pada artikel perpustakaan UNS. Manfaat menggunakan katalog online adalah, penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat, penelusuran dapat dilakukan dimana saja tidak harus datang ke perpustakaan, menghemat waktu dan tenaga, pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi apakah sedang dipinjam atau tidak, pengguna mendapatkan peluang lebih banyak dalam menelusur bahan pustaka, dapat menemukan kembali bahan pustaka yang dibutuhkan, meningkatkan layanan perpustakaan, keberadaan perpustakaan diketahui masyarakat luas.
OPAC dinyatakan sebagai katalog yang interaktif, karena sistem tersebut menyediakan komunikasi antara pengguna dengan komputer dalam suatu metode atau cara yang bersifat dialog. Fattahi (1995:5) menyatakan, OPAC dapat memberikan reaksi dan respon pengguna dalam suatu cara yang cerdas. Cara itu digunakan untuk menunjukkan pilihan penelusuran yang tersedia, mengoreksi pengoperasian yang salah, menunjukkan alternatif dokumen yang cocok dengan kriteria penelusuran dan menuntun pengguna selama melakukan penelusuran. Pendekatan yang terakhir ini tidak mungkin bisa dilakukan pada katalog kartu.
C.      Sejarah adanya OPAC
Perpustakaan katalog akses publik online diperkenalkan pada awal 1980-an. Dalam merancang studi kegunaan kami, kami dimasukkan apa yang kita rasakan menjadi beberapa yang terbaik, metode yang paling berguna dari penelitian sebelumnya. Namun, penelitian kami adalah unik karena membandingkan empat OPACs perpustakaan yang berbeda (baik akademis dan umum) dari lokasi geografis tertentu, Seattle.
Pada tahun 1999, Chisman, Diller, dan Walbridge melakukan studi kegunaan dari Washington State University Library OPAC. perpustakaan sedang mempersiapkan untuk menerapkan versi baru dari OPAC, dan sebelum melakukannya, ingin menguji bagaimana dapat digunakan katalog baru itu, tes apakah orang mengerti fitur-fiturnya, dan memasukkan umpan balik peserta ke dalam desain OPAC baru . Chis manusia, Diller, dan Walbridge menemukan bahwa sebagian besar masalah OPACs terkait dengan subjek indeks dan database artikel; peserta tidak bisa menemukan dan tidak mengerti bagaimana menggunakan fitur ini.
Pada tahun 2002, Halcoussis et al melakukan studi kegunaan dari California Institute of the Arts Library OPAC untuk mengidentifikasi “faktor penyebab menentukan Katalog keberhasilan pengguna dalam mencari informasi, sikap pengguna untuk katalog organisasi, dan kemampuan pengguna untuk menavigasi katalog (p. 148). ”para peneliti ini memiliki peserta melakukan empat berbagai jenis pencarian, mencatat observasi, dan kemudian memiliki peserta menjawab pertanyaan evaluatif tentang katalog. Halcoussis et al menemukan bahwa subjek-pencari lebih mungkin untuk mengalami kesulitan saat menggunakan katalog perpustakaan dan karena itu lebih mungkin untuk melihat katalog dalam cara yang negatif. Selain itu, pengguna yang menghabiskan banyak waktu pada pencarian dan mengambil sejumlah besar hasil pencarian juga lebih mungkin untuk melaporkan mengalami kesulitan menggunakan OPAC.
Pada tahun 2004, Novotny melakukan studi analisis protokol untuk menentukan kegunaan dari Pennsylvania State University Library OPAC. Peserta untuk menyelesaikan lima tugas terstruktur menggunakan katalog dan memberitahu pengamat persis apa yang mereka pikirkan saat mereka menyelesaikan tugas masing-masing. Para peneliti menemukan bahwa penggunaan mesin pencari internet memiliki efek mendalam pada cara pengunjung perpustakaan mencoba untuk menggunakan dan harapan yang mereka miliki untuk OPACs perpustakaan. Karena OPACs perpustakaan tidak selalu dirancang untuk bekerja dengan cara yang sama seperti mesin pencari internet, ini menciptakan beberapa masalah bagi peserta dan menyoroti bidang katalog yang dapat dimodifikasi untuk membantu pengguna mencari lebih efektif .
D.    Penggunaan OPAC di Universitas Annamalai
Dari jurnal yang menjadi refrensi membahas tentang OPAC di Universitas Annamalai yang terletak di india. Penelitian itu juga termasuk mahasiswa pascasarjana, sarjana penelitian dan anggota fakultas dari Universitas Annamalai Perpustakaan. Tujuan utama dari penelitian adalah untuk menilai tujuan, pengetahuan dan frekuensi menggunakan OPAC dan masalah yang dihadapi oleh pengguna. Sebuah sampel dari pengguna 400 diambil meliputi berbagai disiplin ilmu seperti Seni, Sains, Teknik, Kedokteran dan ilmu Pertanian.
Metodologi yang di gunakan adalah kuesioner. Kuesioner dirancang untuk mengumpulkan data primer yang didistribusikan di antara pengguna 400 dari Annamalai Perpustakaan Universitas selama tahun akademik 2010-2011. perawatan yang tepat diambil untuk memilih sampel yang representatif dari setiap kategori secara proporsional atas dasar kekuatan total dari kategori yang bersangkutan. Sebanyak 268 dari 400 responden selesai dan kembali kuesioner memberikan keseluruhan, tingkat tanggapan 67 persen. Hal yang di bahas dalam jurnal tersebut adalah:
1.          Frekuensi Menggunakan OPAC
Tabel 3.  Frekuensi menggunakan OPAC

Frekuensi
Jumlah Responden
Persentase
Sering
84
31,35
Kadang
68
25,38
Jarang
56
20,89
Tak pernah
60
22,38
Total
268
100.00

Hal ini penting untuk mengetahui seberapa sering pengguna menggunakan OPAC untuk mencari dokumen yang diperlukan mereka. Frekuensi menggunakan OPAC menunjukkan nilainya di perpustakaan. Tabel-3 menunjukkan frekuensi penggunaan OPAC. Tabel menggambarkan bahwa dari total pengguna 268 hanya 31,35% responden sering menggunakan OPAC, 25,38% responden digunakan sesekali, 20,89% responden jarang digunakan dan 22,38% responden tidak pernah digunakan OPAC. Tabel -3 menunjukkan lebih lanjut bahwa hanya sepertiga dari responden yang digunakan OPAC sering.

2.     Masalah untuk tidak pernah menggunakan OPAC
Tabel 4. Masalah untuk tidak pernah menggunakan OPAC
alasan
Jumlah Responden
Persentase
Kurangnya pengetahuan
57
95.00
Membingungkan untuk menggunakan
42
70.00
tidak ada output
31
51,66
Kurangnya bantuan dari staf perpustakaan
27
45.00
kecepatan lambat
22
36.66
Kurangnya sistem komputer
15
25.00

Seperti disajikan pada Tabel 3, di antara responden, 60 (22,38%) tidak pernah digunakan OPAC. responden ini diminta untuk memberikan alasan untuk tidak pernah menggunakan OPAC. Tabel 4 menunjukkan bahwa 95% dari 60 responden menyatakan kurangnya pengetahuan, 70% dinyatakan membingungkan untuk digunakan, 51,66% menyatakan tidak ada output, 45% menyatakan kurangnya bantuan dari staf perpustakaan, 36,66% menyatakan kecepatan lambat dan sekitar satu kurangnya menyatakan keempat sistem komputer.
3.       Metode Alternatif Digunakan oleh Pengguna
Tabel 5.  metode alternatif yang digunakan oleh pengguna
metode alternatif
Jumlah Responden
Persentase
Konsultasikan katalog kartu
35
58,33
rak pencarian individual
48
80.00
Meminta staf perpustakaan
26
43,33
Meminta teman-teman
17
28.33

Pendapat tentang metode alternatif yang digunakan oleh pengguna yang tidak pernah menggunakan OPAC terwakili dalam Tabel 5. Keluar dari pengguna 60 58,33% katalog kartu berkonsultasi untuk mencari dokumen-dokumen, 80% mencari rak-rak perpustakaan sendiri. Selanjutnya, 43,33% menempuh jalur bantuan dari staf perpustakaan untuk mengetahui dokumen, dan 28,33% menempuh jalur bantuan dari teman-teman. Dengan demikian, jelas dari Tabel 5 yang mayoritas para pengguna lebih suka mencari rak atau berkonsultasi katalog kartu untuk menemukan dokumen yang diperlukan.
4.     Tujuan Menggunakan OPAC

Tabel 6. Tujuan menggunakan OPAC

Tujuan menggunakan OPAC
Jumlah Responden
Persentase

Untuk mengetahui ketersediaan
154
74,03

dokumen yang dipersyaratkan




Untuk mengetahui apakah diperlukan
87
41,82

dokumen yang diterbitkan




Untuk mengetahui lokasi
163
78,36

dokumen yang diperlukan





Tabel 6 menunjukkan tujuan menggunakan OPAC ditunjukkan. Ini menggambarkan bahwa 74,03% dari pengguna berkonsultasi OPAC untuk mengetahui ketersediaan dokumen yang diperlukan di perpustakaan, 41,82% untuk mengetahui apakah dokumen yang diperlukan ditempatkan dan 78,36% untuk mengetahui lokasi dari dokumen yang diperlukan. Hal ini jelas dari Tabel 6 yang sebagian besar pengguna berkonsultasi OPAC untuk mengetahui ketersediaan dan lokasi dari dokumen yang dipersyaratkan.
5.                     Ketersediaan Staf Perpustakaan di Sekitar OPAC
Tabel 7.  Ketersediaan Staf Perpustakaan di sekitar OPAC
Ketersediaan staf
Jumlah Responden
Persentase



Selalu
77
37,01



Biasanya
56
26,93



Kadang
38
18,26



Jarang
24
11,54



Tak pernah
13
6,26



Total
208
100.00

Tabel 7 menunjukkan tanggapan tentang ketersediaan staf perpustakaan untuk membantu pengguna untuk menggunakan OPAC. Tabel ini mengungkapkan bahwa hanya 37,01% pengguna menemukan bahwa staf perpustakaan adalahselalu tersedia di dekat OPAC, 26,93% menemukan staf perpustakaan biasanya tersedia, 18,26% ditemukan kadang-kadang tersedia, 11,54% ditemukan jarang tersedia dan 6,26% ditemukan tidak pernah tersedia di dekat OPAC
6.     Kecukupan Komputer untuk OPAC Gunakan
Kecukupan komputer
Jumlah Responden
Persentase
Sangat setuju
37
17,78
Setuju
82
39,43
Netral
45
21,63
Tidak setuju
28
13,47
Sangat tidak setuju
16
7,69
Total
208
100.00
Tabel-8 merupakan pendapat responden tentang kecukupan komputer yang tersedia di perpustakaan untuk digunakan OPAC. Tabel menunjukkan bahwa hanya 17,78% pengguna sangat setuju bahwa jumlah komputer adalah kecukupan, lebih dari sepertiga dari pengguna setuju dengan ketersediaan komputer, 21,63% netral tentang hal itu, 13,47% yang tidak setuju dengan ketersediaan komputer, dan sangat sedikit 7,69% sangat tidak setuju dengan ketersediaan komputer. Hal ini jelas dari Tabel 15 bahwa mayoritas pengguna berpendapat bahwa jumlah komputer adalah kecukupan untuk digunakan OPAC.
7.     Secara keseluruhan Tingkat Kepuasan Menggunakan OPAC
Tabel 10.  Secara keseluruhan Tingkat Kepuasan Menggunakan OPAC
Tingkat kepuasan
Jumlah Responden
Persentase
Sangat puas
42
20,19
Puas
87
41,83
cukup puas
61
29.33
Tidak puas
13
6,25
Sangat tidak puas
5
2,40
Total
208
100.00

Tabel 10 menunjukkan tingkat kepuasan secara keseluruhan pengguna di menggunaan OPAC. Ini menyoroti bahwa dari pengguna 208 sekitar seperlima dari pengguna 20,19% sepenuhnya puas dengan penggunaan OPAC, hampir setengah dari responden merasa puas dan satu -Ketiga cukup puas dengan menggunakan OPAC. Hanya 6,25% merasa tidak puas dengan penggunaan OPAC dan 2,40% sangat puas dengan menggunakan OPAC. Terbukti, jelas bahwa hanya sebagian besar pengguna puas dengan OPAC kerja.

E.     Perbandingan dengan perpustakaan daerah trenggalek
Berdasarkan pada pada pembahasan poin D yang telah dijelaskan perlu dilakukan pemecahan masalah terhadap penggunaan OPAC (Online Public Access Catalog) dalam pencarian informasi pada dinas perpustakaan dan kearsipan daerah trenggalek adalah sebagai berikut:
1.      Fasilitas penunjang seperti komputer hasus ditambah lebih banyak. Karena komputer yang digunakan untuk penelusuran bahan pustaka masih sedikit, sedangkan pengguna yang akan memanfaatkan jasa perpustakaan banyak dan tidak sebanding dengan ketersediaan komputer untuk pencarian informasi bahan pustaka yang diperlukan. Apabila komputer tersebut di perbanyak mungkin akan mempercepat proses penelusuran informasi sehingga tidak menyebabkan antri dan akan memakin waktu yang cukup lama.
2.      Sebaiknya harus dibuat panduan atau pedoman cara menggunakan katalog online tersebut dan diletakkan di dekat komputer yang akan digunakan. Dan seharusnya bimbingan dan pengarahan dari pustakawan tentang bagaimana cara menggunakan katalog online sebagai alat telusur lebih ditingkatkan lagi misalnya waktu bimbingan dan pengarahan lebih ditambah lagi, dan sistem OPAC yang digunakan juga harus user friendly sehingga lebih memudahkan pengguna dan mempercepat proses penelusuran informasi
3.      Seharusnya informasi yang disediakan di katalog online harus lebih lengkap lagi, selain koleksi yang disediakan, informasi lain seperti banyak eksemplar dipinjam atau tidaknya buku tersebut seharusnya bisa dimasukkan ke dalam katalog online atau OPAC tersebut sehingga terlihat lebih efektif dan efisien dan ini sangat memudahkan pengguna dalam pencarian informasi atau buku yang dicarinya, dan informasi mengenai koleksi-koleksi terbaru dari perpustakaan tersebut seharusnya juga dimasukkan ke dalam katalog online tersebut.
Kendala dalam Penggunaan OPAC (Online Public Access Catalog) di Perpustakaan adalah Komputer yang digunakan masih kurang hanya dua unit perangkat komputer. dua unit komputer tersebut terkadang hanya satu yang bisa digunakan karena komputer tersebut sering mengalami kerusakan. Kerusakan ini mengganggu pengguna dalam penelusuran informasi. Dan dua unit komputer tersebut salah satunya digunakan untuk login pemustaka atau untuk mengisi daftar hadir memustaka. Pada saat jam tertentu pengguna antri dalam menggunakan katalog tersebut, sehingga cukup memakan waktu yang lama. Hal tersebut membuat pengguna bosan untuk menelusuri informasi dengan menggunakan katalog online atau OPAC, dan pengguna terkadang lebih memilih mencari buku atau bahan koleksi dengan langsung mengunjungi rak koleksi tersebut.
Pengguna menelusur informasi tersebut kebanyakan hanya dengan menggunakan judul, pengarang dan subjek jarang sekali digunakan dalam proses pencarian tersebut. Hal ini dikarenakan masih kuranngnya pengetahuan pengguna tentang cara menelusur informasi tersebut. Padahal di dalam katalog online atau OPAC tersebut disediakan cara menelusur dengan menggunakan nama pengarang atau subjek. Hal ini dapat terjadi karena OPAC atau katalog online yang digunakan kurang user friendly maksudnya OPAC yang digunakan tidak mudah dimengerti oleh pengguna sehingga masih banyak pengguna yang belum mengetahui cara menelusuri informasi dengan menggunakan pengarang dan subjek tersebut.
Informasi yang disediakan atau yang disajikan di dalam OPAC tersebut masih kurang lengkap seperti informasi mengenai koleksi terbaru dari perpustakaan tersebut tidak ada, dan mungkin belum semua bahan pustaka dimasukkan kedalam OPAC tersebut, ini dapat dilihat dari buku yang di cari oleh pengguna terkadang tidak tersedia dan juga tidak ditemukan. Informasi mengenai buku-buku terbaru juga tidak tersedia di dalam katalog online tersebut.


No comments:

Post a Comment