Friday, May 17, 2019

MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA


                                                          BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Masuknya Islam
Disepakati bahwa agama Islam pertama kali masuk ke Indonesia melalui Sumatera, selanjutnya penyiaran agama Islam berkembang ke pulau-pulau lain di Nusantara. Ketika kekuatan Islam semakin melembaga, berdirilah kerajaan-kerajaan Islam. Sementara itu, berkat dukungan kerajaan-kerajaan serta upaya gigih dari para ulama, akhirnya Islam sampai ke tanah Jawa.
Proses masuknya Islam ke Indonesia sampai sekarang masih dalam perdebatan panjang. Tiga fokus pembicaraan mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni seputar tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini terdapat perdebatan panjang di antara para ahli sejarah. Berikut ini akan dijelaskan beberapa teori yang populer tentang masuknya Islam ke Indonesia.
Teori yang pertama dikenal dengan teori Gujarat, yang kedua dikenal dengan teori Arab, yang ketiga dikenal dengan teori Persia dan yang keempat adalah teori China. Masing-masing teori memberikan alasan dan argumentasi berbeda. Namun demikian, antara satu teori dengan teori lainnya tidak menimbulkan satu pertentangan yang berarti, akan tetapi bisa saling melengkapi dan memperkaya pengetahuan sejarah bangsa kita.
a.      Jalur Masuknya Islam di Indonesia
1.      Teori Gujarat
Teori ini dipopulerkan oleh seorang orientalis Belanda yang meneliti tentang Islam di Indonesia bernama Snouck Hurgronje. Ia menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Cambay, Gujarat, India. Memang sebagian besar Sejarahwan asal Belanda, memegang teori bahwa Islam di Indonesia berasal dari Anak Benua India.
Selain Snouck Hurgronje, masih ada beberapa Sejarawan Belanda yang sepakat bahwa Islam di Nusantara datang dari Gujarat, dengan alasan bahwa batu nisan makam Raja Malik al-Saleh yang merupakan raja kerajaan Samudera Pasai, Aceh, bertuliskan angka tahun 686H/1297 M dengan menggunakan nisan yang berasal dari Gujarat, India. Selain itu batu nisan yang terdapat di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, juga menunjukkan hal yang sama. Kedua batu nisan tersebut memiliki persamaan bentuk dengan batu nisan yang terdapat di Cambay, Gujarat, India. Dengan beberapa alasan tersebut mereka meyimpulkan bahwa Islam di Nusantara berasal dari India.
Salah satu Sejarawan yang mendukung teori ini ialah Prof. Hamka. Dia menyatakan bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriah (abad ke 7-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur perdagangan yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai melalui selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di China, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai-nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh Masehi.
Hamka berpendapat bahwa pada tahun 625 M, berdasarkan sebuah naskah Tiongkok yang dicatat oleh Pendeta Budha I-Tsing yang melakukan perjalanan dari Canton menuju India. Perjalanan tersebut menggunakan kapal Posse, dan pada tahun 674M ia singgah di Bhoga (yang sekarang dikenal dengan Palembang, Sumatera Selatan). Di Bhoga ia menemukan sekelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatera.
2.      Teori Persia
Pencetus teori Persia ini adalah Hoesein Djajaningrat. Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya pada aspek kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dianggap mempunyai persamaan dengan Persia, di antaranya:
a.       cucu Nabi Muhammad SAW, yang sangat dijunjung oleh kaum muslim Syiah di Iran (Persia). Di Sumatra Barat, peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan Bubur Syuro.
b.      Adanya kesamaan konsep ajaran sufisme yang dianut Syaikh Siti Jenar dengan Al-Hallaj, seorang sufi besar dari Persia.
c.       Penggunaan istilah bahasa Iran (Persia) dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi Harakat.
d.      Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
e.       Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri, daerah Gresik. Leren adalah nama salah satu pendukung teori ini, yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Djayadiningrat. Djajaningrat dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang mempertahankan disertasi di Universitas Leiden, Belanda, pada 1913. Disertasinya tersebut berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Pandangan Kritis mengenai Sejarah Banten).
3.      Teori China
Menurut teori China, proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau China. Menurut teori ini, orang China telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha, etnis China atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di China pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto al-Qurtuby dalam bukunya Arus China-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik (sumber luar negeri) pada masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dan pesisir China bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam. Daerah yang mula-mula menerima agama Islam adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari tempat itu, Islam kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Beberapa tempat penyebarannya adalah:
a.         Pesisir Sumatera bagian utara di Aceh
b.         Pariaman di Sumatera Barat
c.         Gresik dan Tuban di Jawa Timur
d.        Demak di Jawa Tengah
e.         Banten di Jawa Barat
f.          Palembang di Sumatera Selatan
g.         Banjar di Kalimantan Selatan
h.         Makassar di Sulawesi Selatan
Pada dasarnya semua teori di atas masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut. Menurut Azyumardi Azra, sesungguhnya kedatangan Islam ke Indonesia datang dalam kompleksitas, artinya tidak berasal dari satu tempat, peran kelompok tunggal, dan tidak dalam waktu yang bersamaan.
B. Faktor Penyebab Berkembangnya Islam di Indonesia
1.      Islam merupakan agama yang tidak mengenal kasta
Islam merupakan agama yang memandang semua makhluk itu sama yaitu sebagai ciptaan Tuhan. Sehingga Islam tidak mengenal adanya sistem kasta. Dengan kondisi tersebut, masyarakat Indonesia waktu itu menjadi tertarik dan membuat Islam menyebar dengan mudah di Indonesia.
2.      Syarat untuk masuk Islam sangat mudah
Syarat agar dapat diterima dalam agama Islam sangatlah mudah. Karena hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, maka seseorang tersebut telah dianggap sebagai bagian dari penganut agama Islam sehingga wajib untuk menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.
3.      Penyebaran agama Islam dilakukan tanpa adanya paksaan
Dengan cara perlahan dan tanpa adanya paksaan ini, maka banyak masyarakat  Indonesia yang merasa damai apabila bergabung dengan agama Islam. Penyebaran agama Islam dilakukan dengan cara seperti kesenian, perdagangan, pernikahan, akulturasi budaya, dan pondok pesantren. Jalur yang paling banyak diminati yaitu dengan cara perdagangan dan kesenian. Karena pada saat itu Indonesia menjadi salah satu jalur perdagangan terbesar di Asia sehingga dimanfaatkan untuk menyebarkan agama Islam. Sedangkan pada jalur kesenian sangat menarik perhatian yaitu melalui syair, seni wayang, dan musik rebana.
C. Perkembangan Studi Islam di Indonesia
Seiring berkembangnya agama islam di Indonesia, berkembang pula studi Islam di Indonesia. Ada beberapa metode pengajaran dalam studi Islam, yaitu :
a.       Sebelum Kemerdekaan
1.      Langgar
tempat yang biasa digunakan untuk belajar adalah di langgar, masjid, surau dan dirumah guru yang mengajar. Materi yang disampaikan adalah tentang tajwid, cara membaca alquran, menghafal doa doa, belajar sholat dll. Cara belajarnya yaitu guru bertatap muka langsung dengan murid satu persatu, dan guru mengajar dengan dikelilingi oleh murid-murid.
2.      Pesantren
Tempat belajar dipesantren yaitu dipondok yang menjadi tempat tinggal santri. Yang mengajar didalam pondok tersebut adalah ustadz dan kyai. Didalam pesantren, ada lebih banyak ilmu yang dipakai untuk belajar, antara lain mengaji kitab, nahwu, sorof, ilmu tafsir, ilmu kalam, dsb. Metode yang digunakan adalah belajar dengan membaca sebuah kitab arab, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa melayu. Setelah itu baru diterangkan maksudnya.
3.      Kerajaan
Cara mengajarnya dilakukan secara secara resmi oleh lembaga yang ditunjuk langsung oleh kerajaan. Terdapat kekhususan dalam belajar agama islam dikerajaan, pertama kerajaan samudra pasai di aceh di dirikan oleh malik ibrahim bin mahdun yang berdiri pada abad 10 M. Adapun materi yang diajarkan yaitu fiqih mazhab syafii dan sisi lembaganya bersifat informal. Begitu juga dengan kerajaan-karajaan lain ada kalanya sistemnya sama dan kadangkala juga berbeda.
Kemudian dalam perkembangannya, pada dasawarsa abad ke-20 muncul madrasah dan sekolah sekolah model belanda yang diprakarsai oleh organisasi-organisasi islam seperti NU, Muhamadiyah dll. Pada tahun 1906 organisasi-organisasi tersebut mendirikan beberapa tempet belajar seperti mamba'ul ulum yang didirikan pada 1906 oleh susuhunan pakubuwono, sekolah adabiyah pada 1907 oleh Abdullah ahmad.
b.        Setelah Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka dan mempunyai departemen agama, maka secara instasional departemen agama diserahi kewajiban dalam pembinaan agama. Lembaga Pendidikan Agama Islam ada yang berstatus swasta dan negeri, antara lain :
1.      Madrasah Ibtidaiyah (Tingkat Dasar)
2.      Madrasah Tsanawiyah (Tingkat Menengah)
3.      Madrasah Aliyah (Tingkat Atas)
4.      Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri
Walaupun sudah ada lembaga formal yang menaungi studi islam, tidak menghilangkan tradisi mengaji di masjid ataupun di pesantren. Hanya saja sekarang belajar agama islam di masjid dan di pesantren telah mengalami banyak perkembangan dan kemajuan seiring berjalannya waktu.

No comments:

Post a Comment